Syiah Di ternate ingkar janji

TERNATE – Penganut ajaran Syiah kembali menjadi sasaran kemarahan warga di Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, pada Rabu kemarin malam. Penyerangan itu membuat pemukiman dan rumah ibadah rusak. Peristiwa tersebut terjadi sekira pukul 22.00 waktu setempat. Tiba-tiba saja, warga  menyerang penganut ajaran itu dan merusak fasilitas ibadah yang mereka miliki serta perumahan. Bahkan, Imam … Read more

Syiah berlindung dibalik Risalah Amman

Menyambut Seminar Internasional “Persatuan Umat Islam Sedunia” di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia, Makassar, atas kerjasama dengan Kudebes Iran, Senin, 5 Nov 2012 Risalah Amman atau Amman Message adalah sebuah nota kesepahaman antar-mazhab dalam Islam yang ditandatangani oleh ratusan ulama lintas mazhab dan negara dari segenap penjuru dunia, merupakan seruan persatuan umat Islam sedunia, agar tidak terpecah … Read more

WASPADA BUKU PUTIH MADZHAB SYIAH 4 -Bukti yang tak terbantahkan-

MEMUJI “DUA BERHALA QURAISY”!!!

1. Penerbit buku putih (syiah Indonesia) mengaku ikut Uqala’ (orang-orang pandai) bukan juhala’ (orang-orang bodoh), sufaha` dan muthatharrif (ekstrim).

2. Syiah Indonesia penerbit buku putih mengingkari adanya takfir dan tadhlil seperti di halaman 6:

 

3. Syiah Indonesia penerbit buku putih bermakmum pada Imam KHumaini dan membelanya mati-matian, mengingkari kalau Khumaini (dalam Kasyful Asrar) menyebut abu Bakar dan Umar sebagai dua berhala Quraisy (h. 19, 67-68,)

Syiah Indonesia menolak semua yang bertentangan dengan al-Quran dan akal sehat, sebagaimana disebutkan di Hal 22 :

Yang dimaksud dengan al-Quran sebagaimana di hal 15 adalah mushhaf (“usmani”) yang ada di tangan kita ini:

Namun tidak diterangkan Akal sehat milik siapa? Akal sehat milik Sahabat Nabi dan ahlulbait ataukah syiah?

Di bantahan ke 3 sudah dijelaskan bahwa tokoh agama Syiah Husein Syahab berpandangan bahwa cara menyelesaikan persoalan ini adalah dengan membaca buku untuk mengetahui apakah syiah mencaci sahabat atau berbuat kafir.

Read more

Selamat diterbitkannya buku Fatwa MUI JATIM -kesesatan syi’ah-

Pengantar penerbit بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله رب العالمين، Ùˆ العاقبة للمتقين Ùˆ لا عدوان إلا على الظالمين، Ùˆ أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له إله الأولين والآخرين Ùˆ أشهد أن محمدا عبده Ùˆ رسوله المبعوث رحمة للعالمين، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد: Kami sangat bersyukur … Read more

dialog syiah Di surabaya pun bubar!!

“Acara dialog “Perlukah Syiah Ditolak?” sedianya diadakan di Aula IAIN Sunan Ampel Surabaya, namun karena mendapat banyak tantangan akhirnya acara di pindah ke Aula Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dalam kesempatan itu, Emha Ainun Najib yang menjadi salah satu pembicara sempat menantang para penentang Syiah untuk menyebutkan ayat yang memerangi sesama manusia, namun setelah … Read more

WASPADA BUKU PUTIH SYIAH BAG.3 BUKU PUTIH SEMAKIN MENGHITAMKAN SYIAH

Dalam promosi buku ini mereka menulis:

Buku yang berjudul ‘Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama Syiah Yang Muktabar: Sebuah Uraian untuk Kesepahaman Demi Kerukunan Umat Islam’ itu diterbitkan Ahlul Bait Indonesia sebagai jawaban atas berbagai tuduhan yang dinilai sebagai fitnah terhadap Syiah.

“Kita meluncurkan buku putih ini karena harapan guru-guru kita belum tercapai. Beliau mengharapkan bahwa dalam mazhab Islam, suatu hari dapat bersatu. Tokoh-tokoh muslim dari bebagai mazhab dapat duduk bersama untuk melayani secara umum dan umat muslim secara khusus,” ujar Ketua DPP Ahlul Bait Indonesia, Hasan Alaydrus dalam peluncuran buku tersebut di gedung Graha Sucofindo, Jalan Pasar Minggu Raya, Jakarta Selatan, Selasa (18/9/2012).

“Katakan teman-teman Jatim, jangan suka mengkafirkan Syiah,” tuturnya. “Hari gini masih mengkafirkan Syiah,” cetus Hasan mengutip tokoh NU, Salahudin Wahid.

Mereka juga menulis:

Aliran Islam Syiah di Indonesia berbeda dengan Syiah yang berada di India dan Pakistan1. Di Indonesia Syiah dituding saling mencaci sahabat.Demikian dikatakan, tokoh agama Syiah, Husein Shahab dalam Dialog Antar Madzab Konstruksi Relasi Syi’ah-Sunni di Indonesia, di Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah,Jakarta, Selasa (18/9). “Kita harus melihat perbedaan secara positif, karena perbedaan tidak mungkin bisa dihindari, ” tuturnya.

Read more

Mengungkap Kedok Jalaluddin Rakhmat, Menjawab Buku Al-Mushthafa

Bismillahirrahminirrahim
Muqaddimah
Pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan membawakan dan memaparkan satu materi yang sebagaimana yang diantarkan tadi oleh bapak moderator berusaha untuk lebih menukik pada tema utama yang kita angkat pada kesempatan ini. Kalau tadi Bapak Prof. Baharun telah menjelaskan tentang bagaimana semestinya kita Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mewariskan kemurnian Islam dari Rasul secara serius berusaha untuk mengembangkan ukhuwah islamiyah di antara kita.
Tidak mengapa saya sampaikan bahwa saya alumni pesantren modern IMMIM, dan dahulu KH. Fadli Luran, memiliki dan mengajarkan kepada kami satu ajaran serta semboyan yang sangat bagus untuk selalu kita hidup-hidupkan, yang menjadi trade mark tersendiri bagi IMMIM dan juga alumni-alumninya, yaitu ungkapan yang mengatakan “Bersatu dalam akidah, toleransi dalam furu’ dan khilafiyah” dan semenjak saya setingkat smp-sma, terus terang ungkapan ini sudah sangat sering saya dengar, tapi mungkin waktu itu karena persoalan usia, belum mampu saya pahami secara tepat dan mendalam apa makna tersebut.
Tetapi justru setelah saya pergi belajar ke madinah, ke kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di mana Nabi mendidik murid-muridnya, generasi pertama dari umat ini, murid-murid yang dibimbing langsung oleh guru terbesar yang pernah ada dalam sejarah umat manusia, maka subhanallah, saya bisa memahami dengan benar dan saya bisa memahaminya secara mendalam, betapa tepat apa yang telah beliau ajarkan kepada kami dahulu itu “Bersatu dalam akidah, toleransi dalam furu’ dan khilafiyah”.
Kalau kita menginginkan persatuan, maka kunci persatuan itu adalah pada akidah ahlusunnah wal jamaah, dan kalau kita ingin mengembangkan sikap toleransi, lapang dada dan terbuka terhadap perbedaan-perbedaan, maka itu bisa kita lakukan apabila itu terjadi dalam wilayah-wilayah furu’ dan khilafiyah.
Saya juga teringat betapa Imam Darul Hijrah, Imamnya kota Madinah, Imam Malik Rahimahullahu ta’ala, tiga kali berturut-turut khalifah yang pernah memerintah Khilafah Abbasiyah pernah menawarkan kepada beliau untuk menjadikan kitab Muwaththo’ ini sebagai kitab resmi hukum negara, mereka mengatakan -jadi tiga khlaifah berturut-berturut menawarkan kepada Imam Malik-, “Wahai Imam Malik, bagaimana kalau kitab yang engkau karang itu, kitab Muwaththo’ yang berisikan tentang Furu’ Fiqhiyyah berbicara tentang hukum-hukum cabang saya tetapkan sebagai ketentuan yang mengikat seluruh masyarakat Islam yang di atas permukaan bumi ini” karena dahulu Cuma ada khilafah Islamiyah, belum ada negara-negara bangsa akibat penjajahan yang kita saksikan pada hari ini.
Dalam setiap kesempatan tersebut Imam Malik rahimahullahu ta’ala selalu menolak dan mengatakan, “wahai khalifah, sesungguhnya orang-orang yang sudah tersebar, kaum Muslimin yang ada ini mereka telah mendengar hadis-hadis tentang persoalan-persoalan furu’iyah, tentang persoalan-persoalan fiqh, cabang-cabang hukum yang mungkin saja tidak didengar oleh sahabat-sahabat yang lain, oleh kaum Muslimin yang ada pada tempat-tempat yang lain, yang ada di wilayah Islam yang lain, maka wahai khalifah saya tidak  ingin jangan sampai kemudian kebijakan untuk menyatukan seluruh kaum Muslimin dalam satu hukum ini justru akan menimbulkan kemudharatan yang saya pandang bahwa biarlah orang-orang itu berbeda pendapat sesuai dengan apa yang mereka pelajari yang penting masing-masing mengamalkan sesuai dengan hadis yang sampai pada mereka”, seakan-akan Imam Malik mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan dalam furu’iyah itu adalah hal biasa, sebagaimana hal itu terjadi pada zaman Nabi saw, terjadi pada zaman sahabat, terjadi pada saat ini, maka biarlah dia menjadi realitas sepanjang sejarah.
Akan tetapi, kita melihat bahwa walaupun Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal berbeda pendapat dalam persoalan furu’iyah, tidak pernah kita mendengar bahwa Imam Abu Hanifah misalnya menganut faham Syiah, tidak pernah kita mendengar bahwa Imam Malik menganut paham Inkarus Sunnah, tidak pernah kita mendengar bahwa Imam Ahmad menganut paham pluralism agama, tidak pernah. Kenapa? Karena memang mereka bersatu dalam akidah, toleransi dalam furu’ dan khilafiyah.
Inilah saya tekankan kembali bahwa justru setelah saya kembali menyelesaikan pendidikan saya di kota Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saya bisa merasakan betapa dalam ajaran dari guru kami dahulu, KH. Fadli Luran.
 
Terdapat Racun Dalam Keindahan Retorika Jalaluddin Rakhmat
Pada kesempatan ini saya akan membahas dan mengangkat pemikiran salah seorang tokoh yang sangat jamak dikenal di masyarakat kita sebagai tokoh yang getol mempropagandakan paham Syiah.
Tahun 1998, 1992, 1993, 1995, pembaca tentu sangat ingat kondisi pada saat itu, penerbit Mizan dengan buku-bukunya, revolusi Iran, Islam Aktual, Islam Alternatif, dan seterusnya. Terus terang ketika saya di persantren saya juga termasuk pembaca berat buku-bukunya Jalaluddin Rakhmat. Sebelum saya tamat pesantren saya beli bukunya “Retorika Praktis”, kenapa? Karena memang bahasanya bagus. Dan kalau kita membaca bukunya seakan-akan kita dibawa mengalir oleh sebuah arus air, akan tetapi pembaca sekalian, setelah semakin lama saya belajar Islam bahkan jauh-jauh harus pergi meninggalkan orang tua, keluarga, meninggalkan kawan-kawan, dan guru-guru yang ada di sini, belajar di kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saya semakin faham, bahwa dalam keindahan retorika yang disampaikan oleh Jalaluddin Rakhmat, dalam kesejukan yang kadang-kadang diselipkan dalam judul buku-bukunya sebenarnya terdapat racun yang sangat berbahaya bagi kelangsungan dan kehidupan bermasyarakat kita di negeri kita yang sama-sama kita cintai ini.
Mengungkap Kedok Jalaluddin Rakhmat
Saya langsung saja masuk ke dalam poin-poin yang ada,

Read more

Hadits Tsaqalain

abu fathimah bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah, washshalatu wassalamu ala rasulillah wa shahbihi wa man waalah, wa ba’du: Banyak dari penganut syi’ah yang mendasarkan ajaran mereka dengan hadits tsaqalain dan mengatakan hadits ini menunjukkan pengangkatan Ahlul Bait Rasulillah sebagai imam atau khalifah, lalu bagaimanakah sebenarnya mendudukkan hadits tsaqolain? Berikut ini rangkuman kami dari ceramah al Ustadz Abu Hamzah … Read more

AKAR MASALAH KERUSUHAN SAMPANG

(BENTROK SUNNI-SYIAH) Berita ini meskipun agak telat namun masih sangat relevan sebagai salah satu upaya meluruskan sejarah. Kemudian juga sebagai bentuk ralat dari makalah gensyiah sebelumnya yang kurang tepat, yaitu saat menafsiri rekomendasi mui pusat untuk kasus sampan yang berbunyi” Meminta kepada pemerintah agar melakukan langkah-langkah strategis dan positif dalam menyelesaikan masalah konflik yang terjadi … Read more

WASPADA “BUKU PUTIH MAZDHAB SYIAH” YANG TIDAK PUTIH (bag. 1)

KOMENTAR Ingat syiah ingat darah! Ingat Abdullah bin Saba` al-Yahudi! Ingat Majusi Persia yang dendam kepada Islam! ingat kejahatan mereka di Iran, di Irak, di Suria! Ingat agama imamiyyah, mut’ah dan taqiyyah yang penuh kebohongan! Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil ‘alamin washshalatu wassalamu ala asyrafil anbiya` walmursalin wa aalihi wa shahbihi ajmaiin. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, ini … Read more

KH Abdul Hamid Baidlowi: Said Aqil Siradj menghina Nabi 2X

KH Abdul Hamid Baidlowi (kiri). Said Aqil Siradj (kanan). KH Abdul Hamid Baidlowi (ulama sepuh NU) menyatakan keprihatinan akan meluasnya gerakan Syiah di Indonesia. “Parahnya, NU pun sudah mulai digerogoti akidah Syiah,” kata Kiai Baidlowi yang juga menangisi tahta NU 1 yang kini dijabat alumnus Lirboyo dan Ummul Qura namun akidahnya sesat dan menyesatkan. Keprihatinan … Read more

Dr Said Aqil Siradj Dulu dan Kini

(Dulu: Syiah sesat, Kini: Syiah tidak sesat) PERJALANAN hidup manusia melalui berbagai fase dan juga perubahan fisik, mental, dan juga spiritual. Adanya perubahan ini menjadi bukti nyata bahwa hanya Allah Azza wa Jalla yang kekal. Dan kalau bukan karena karunia dari-Nya manusia tidak akan kuasa untuk teguh dalam menetapi sesuatu termasuk agamanya (istiqamah). Karena itu, … Read more