KARIKATUR SURAT KABAR IRAN MELECEHKAN NABI YUSUF!

Gensyiah: Majalah “Kayhan” Iran dalam halaman 49, di No edisi (145-246) untuk bulan (Agustus, September), menerbitkan karikatur yang melecehkan Nabi Yusuf (), yang menyebabkan kaum muslimin terusik dan tersakiti. Kayhan Foundation pada prinsipnya adalah juru bicara resmi pemerintah Iran, yang dipimpin oleh seorang sayyid yang mengaku menjadi pemimpin bagi umat Islam dan menamai dirinya dengan … Read more

SELAMAT MENGORBIT MAJALAH AL-UMM, WADAH BARU AHLULBAIT DAN SAHABAT!

Alhamdulillah, Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya, serta orang yang mengikuti beliau hingga Akhir zaman. kami dari tim GenSyiah.com mengucapkan selamat atas segera terbitnya Majalah al Umm, semoga menjadi tambahan media Ilmu bagi kaum muslimin dan Umat manusia pada umumnya. dan melihat judul utama pada edisi pertama … Read more

Tentara Suriah Merdeka menguasai puncak “Nabi Yunus”

Ahad 14 oktober 2012 GenSyiah :  Tentara Suria Merdeka berhasil menguasai puncak “nabi Yunus” di Latakia, utara-timur negara itu. Hal ini dinyatakan oleh Saluran TV al-Jazeerah, tanpa menunjukkan rincian lebih lanjut. Dalam perkembangan terkait, televisi Al Arabiya melaporkan bahwa Pusat Media Suriah mengatakan: Tentara Suriah reguler membombardir secara intensif pada daerah Naemeh kota di pedesaan … Read more

Kajian Bulanan Masjid Jami’ Al-Sofwa

Tema: KIAT MENGEMBANGKAN KEBAIKAN Pemateri: Ustadz Agus Hasan Bashari, Lc. M.Ag (Direktur Ma’had al-Umm Malang Jawa Timur) Waktu: Ahad, 21 Oktober 2012 M/ 05  Dzulhijjah 1433 H Tempat: Masjid Jami’ Al-Sofwa Jl. Raya Lenteng Agung Barat No.35 Jagakarsa Jakarta Selatan Rute: Dari terminal Kampung Rambutan: Naik Mikrolet 19 jurusan Depok, turun Gg. Guru [Pom Bensin] Lenteng … Read more

WASPADA BUKU PUTIH SYIAH BAG.3 BUKU PUTIH SEMAKIN MENGHITAMKAN SYIAH

Dalam promosi buku ini mereka menulis:

Buku yang berjudul ‘Buku Putih Mazhab Syiah Menurut Ulama Syiah Yang Muktabar: Sebuah Uraian untuk Kesepahaman Demi Kerukunan Umat Islam’ itu diterbitkan Ahlul Bait Indonesia sebagai jawaban atas berbagai tuduhan yang dinilai sebagai fitnah terhadap Syiah.

“Kita meluncurkan buku putih ini karena harapan guru-guru kita belum tercapai. Beliau mengharapkan bahwa dalam mazhab Islam, suatu hari dapat bersatu. Tokoh-tokoh muslim dari bebagai mazhab dapat duduk bersama untuk melayani secara umum dan umat muslim secara khusus,” ujar Ketua DPP Ahlul Bait Indonesia, Hasan Alaydrus dalam peluncuran buku tersebut di gedung Graha Sucofindo, Jalan Pasar Minggu Raya, Jakarta Selatan, Selasa (18/9/2012).

“Katakan teman-teman Jatim, jangan suka mengkafirkan Syiah,” tuturnya. “Hari gini masih mengkafirkan Syiah,” cetus Hasan mengutip tokoh NU, Salahudin Wahid.

Mereka juga menulis:

Aliran Islam Syiah di Indonesia berbeda dengan Syiah yang berada di India dan Pakistan1. Di Indonesia Syiah dituding saling mencaci sahabat.Demikian dikatakan, tokoh agama Syiah, Husein Shahab dalam Dialog Antar Madzab Konstruksi Relasi Syi’ah-Sunni di Indonesia, di Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah,Jakarta, Selasa (18/9). “Kita harus melihat perbedaan secara positif, karena perbedaan tidak mungkin bisa dihindari, ” tuturnya.

Read more

Pejuang suria berhasil merebut pangkalan di luar Damaskus

Jumat 5 oktober 2012 GenSyiah :  Menurut para pejuang oposisi Suriah, mereka telah menguasai pangkalan untuk pertahanan rudal di luar Damaskus, yang di sana ada gudang penyimpanan rudal-rudal . menurut para pengamat militer ini termasuk kemajuan yang langka di kota dikendalikan oleh milisi dari Bashar al-Assad. Dan sebuah video yang diposting di YouTube mengungkapkan tentang … Read more

Mengungkap Kedok Jalaluddin Rakhmat, Menjawab Buku Al-Mushthafa

Bismillahirrahminirrahim
Muqaddimah
Pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan membawakan dan memaparkan satu materi yang sebagaimana yang diantarkan tadi oleh bapak moderator berusaha untuk lebih menukik pada tema utama yang kita angkat pada kesempatan ini. Kalau tadi Bapak Prof. Baharun telah menjelaskan tentang bagaimana semestinya kita Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mewariskan kemurnian Islam dari Rasul secara serius berusaha untuk mengembangkan ukhuwah islamiyah di antara kita.
Tidak mengapa saya sampaikan bahwa saya alumni pesantren modern IMMIM, dan dahulu KH. Fadli Luran, memiliki dan mengajarkan kepada kami satu ajaran serta semboyan yang sangat bagus untuk selalu kita hidup-hidupkan, yang menjadi trade mark tersendiri bagi IMMIM dan juga alumni-alumninya, yaitu ungkapan yang mengatakan “Bersatu dalam akidah, toleransi dalam furu’ dan khilafiyah” dan semenjak saya setingkat smp-sma, terus terang ungkapan ini sudah sangat sering saya dengar, tapi mungkin waktu itu karena persoalan usia, belum mampu saya pahami secara tepat dan mendalam apa makna tersebut.
Tetapi justru setelah saya pergi belajar ke madinah, ke kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, di mana Nabi mendidik murid-muridnya, generasi pertama dari umat ini, murid-murid yang dibimbing langsung oleh guru terbesar yang pernah ada dalam sejarah umat manusia, maka subhanallah, saya bisa memahami dengan benar dan saya bisa memahaminya secara mendalam, betapa tepat apa yang telah beliau ajarkan kepada kami dahulu itu “Bersatu dalam akidah, toleransi dalam furu’ dan khilafiyah”.
Kalau kita menginginkan persatuan, maka kunci persatuan itu adalah pada akidah ahlusunnah wal jamaah, dan kalau kita ingin mengembangkan sikap toleransi, lapang dada dan terbuka terhadap perbedaan-perbedaan, maka itu bisa kita lakukan apabila itu terjadi dalam wilayah-wilayah furu’ dan khilafiyah.
Saya juga teringat betapa Imam Darul Hijrah, Imamnya kota Madinah, Imam Malik Rahimahullahu ta’ala, tiga kali berturut-turut khalifah yang pernah memerintah Khilafah Abbasiyah pernah menawarkan kepada beliau untuk menjadikan kitab Muwaththo’ ini sebagai kitab resmi hukum negara, mereka mengatakan -jadi tiga khlaifah berturut-berturut menawarkan kepada Imam Malik-, “Wahai Imam Malik, bagaimana kalau kitab yang engkau karang itu, kitab Muwaththo’ yang berisikan tentang Furu’ Fiqhiyyah berbicara tentang hukum-hukum cabang saya tetapkan sebagai ketentuan yang mengikat seluruh masyarakat Islam yang di atas permukaan bumi ini” karena dahulu Cuma ada khilafah Islamiyah, belum ada negara-negara bangsa akibat penjajahan yang kita saksikan pada hari ini.
Dalam setiap kesempatan tersebut Imam Malik rahimahullahu ta’ala selalu menolak dan mengatakan, “wahai khalifah, sesungguhnya orang-orang yang sudah tersebar, kaum Muslimin yang ada ini mereka telah mendengar hadis-hadis tentang persoalan-persoalan furu’iyah, tentang persoalan-persoalan fiqh, cabang-cabang hukum yang mungkin saja tidak didengar oleh sahabat-sahabat yang lain, oleh kaum Muslimin yang ada pada tempat-tempat yang lain, yang ada di wilayah Islam yang lain, maka wahai khalifah saya tidak  ingin jangan sampai kemudian kebijakan untuk menyatukan seluruh kaum Muslimin dalam satu hukum ini justru akan menimbulkan kemudharatan yang saya pandang bahwa biarlah orang-orang itu berbeda pendapat sesuai dengan apa yang mereka pelajari yang penting masing-masing mengamalkan sesuai dengan hadis yang sampai pada mereka”, seakan-akan Imam Malik mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan dalam furu’iyah itu adalah hal biasa, sebagaimana hal itu terjadi pada zaman Nabi saw, terjadi pada zaman sahabat, terjadi pada saat ini, maka biarlah dia menjadi realitas sepanjang sejarah.
Akan tetapi, kita melihat bahwa walaupun Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal berbeda pendapat dalam persoalan furu’iyah, tidak pernah kita mendengar bahwa Imam Abu Hanifah misalnya menganut faham Syiah, tidak pernah kita mendengar bahwa Imam Malik menganut paham Inkarus Sunnah, tidak pernah kita mendengar bahwa Imam Ahmad menganut paham pluralism agama, tidak pernah. Kenapa? Karena memang mereka bersatu dalam akidah, toleransi dalam furu’ dan khilafiyah.
Inilah saya tekankan kembali bahwa justru setelah saya kembali menyelesaikan pendidikan saya di kota Rasulullah shallallahu alaihi wasallam saya bisa merasakan betapa dalam ajaran dari guru kami dahulu, KH. Fadli Luran.
 
Terdapat Racun Dalam Keindahan Retorika Jalaluddin Rakhmat
Pada kesempatan ini saya akan membahas dan mengangkat pemikiran salah seorang tokoh yang sangat jamak dikenal di masyarakat kita sebagai tokoh yang getol mempropagandakan paham Syiah.
Tahun 1998, 1992, 1993, 1995, pembaca tentu sangat ingat kondisi pada saat itu, penerbit Mizan dengan buku-bukunya, revolusi Iran, Islam Aktual, Islam Alternatif, dan seterusnya. Terus terang ketika saya di persantren saya juga termasuk pembaca berat buku-bukunya Jalaluddin Rakhmat. Sebelum saya tamat pesantren saya beli bukunya “Retorika Praktis”, kenapa? Karena memang bahasanya bagus. Dan kalau kita membaca bukunya seakan-akan kita dibawa mengalir oleh sebuah arus air, akan tetapi pembaca sekalian, setelah semakin lama saya belajar Islam bahkan jauh-jauh harus pergi meninggalkan orang tua, keluarga, meninggalkan kawan-kawan, dan guru-guru yang ada di sini, belajar di kota Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saya semakin faham, bahwa dalam keindahan retorika yang disampaikan oleh Jalaluddin Rakhmat, dalam kesejukan yang kadang-kadang diselipkan dalam judul buku-bukunya sebenarnya terdapat racun yang sangat berbahaya bagi kelangsungan dan kehidupan bermasyarakat kita di negeri kita yang sama-sama kita cintai ini.
Mengungkap Kedok Jalaluddin Rakhmat
Saya langsung saja masuk ke dalam poin-poin yang ada,

Read more

Waspada buku putih syiah bag.2 buku putih menipu bangsa Indonesia

Awas taqiyyah orang syiah menipu orang indonesia!

KOMENTAR

1. Masih tentang “menurut ulama syiah yang muktabar”

Di halaman 22 sebanyak 2x disebutkan bahwa diantara kitab standar yang menjadi rujukan standar di kalangan ulama syiah adalah: al-kafi karya al-kulaini, man la yahdhuruhu al-faqih karya al-Shaduq ibn Babawaih, al-Tahdzib dan al-Istibshar karya al-Thusi.

Kalau kitab-kitab sumber rujukan syiah yang muktabar itu mengatakan bahwa abu Bakar dan Umar kafir, terlaknat, kemudian penduduk Madinah lebih busuk dan lebih kafir dari penduduk Makkah dll apakah para imam itu khususnya al-Kulaini itu sufaha` (bodoh) dan dewan pengurus pusat ahlulbait Indonesia yang uqala` (pandai)?

Terus kalau ada pertentangan antara ahlulbait indonesia dengan ulama dan kitab-kitab syiah yang muktabar siapa yang dibenarkan dan siapa yang didustakan? Saya khawatir ini akal bulus syiah indonesia untuk membodohi umat islam. perhatikan masalah taqiyyah berikut:
2. Masalah taqiyyah

Menurut buku ini taqiyyah ada dua macam:


Perhatikan kalimat di kovernya “untuk kesepahaman demi kerukunan umat Islam”! Buku ini dikarang bukan untuk menerangkan syiah yang sebenarnya tapi untuk “kerukunan karena mereka minoritas terpojok oleh kesesatannya yang terbongkar melalui kasus sampang.

Tidakkah para pembaca mencium aroma taqiyyah tingkat tinggi?!
Awas jangan mau ditipu oleh orang-orang yang ikut aliran sesat syiah!
Taqiyyah model syiah (taqiyyah yang kedua) ini tidak ada dalam islam, malah dilarang karena mirip sekali dengan istilah nifaq yaitu menyembunyikan kebid’ahan atau kekufuran mereka dari umat islam sunni untuk kepentingan mereka supaya bisa hidup di tengah sunni, hingga apabila sudah waktunya mereka akan terus terang.
Buku putih ini bisa dibilang sebagai bentuk syiah yang paling “santun” bukan yang sesungguhnya sebab tidak ditulis untuk menerangkan syiah apa adanya tapi untuk menjaga perasaan dan menenangkan muslim Indonesia yang sunni biar tidak terus mendukung fatwa MUI yang membongkar kesesatan syiah.
Allah berfirman (QS. Al-Baqarah: 9):

 

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ  9

“mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.”
Ini bentuk yang paling santun, lalu bagaimana bentuk aslinya? Bentuknya adalah seperti syiah iran seperti syiah Khumaini yang menghina Nabi i dan menghina para pengikut Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-.

3. Contoh taqiyyah untuk mengelabui ahlussunnah biar tidak marah, biar mau rukun dengan syiah:
Scan Halaman 25 dari buku putih syiah

Perhatikan kalimat:

دعوا ما وافق القوم فإن الرشد في خلافهم

Mereka terjemahkan: “jauhi (pandangan) kaum (pengikut para penguasa) itu karena kebenaran berada pada kebalikan dari (pandangan) mereka.”
Para pembaca yang cerdik pandai, yang diberi anugerah akal dan hidayah islam, saya bertanya sekarang:
a. Anda tahu siapa yang dimaksud dengan kaum (pengikut para penguasa)?

Kaum yang dimaksud adalah ahlussunnah waljamaah.
Penguasa yang dimaksud adalah Khalifatu Rasulillah Abu Bakar, Amirul Mukminin Umar dan Usman, Muawiyyah (tidak kita sebutkan amirul mukminin ali dan Hasan karena mereka hanya mengakui untuk mereka dan keturunannya saja sebagaimana telah ditunjuk oleh Allah dari langit kata mereka). Maka para khalifah itu (selain ahlulbait) mereka anggap hanya sekedar penguasa secara de facto bukan secara syar’I, sebab secara syar’I mereka adalah perampas hak ahlulbait, zhalim kafir!.
Perhatikan kata mereka:

Perhatikan penekanan mereka pada kata berikut:

Jadi setelah disebut sebagai fakta sejarah yang tidak bisa ditolak kebenarannya (baca: keberadaannya!) dan mereka juga adalah sahabat Nabi yang mulia dan nyatanyapun mereka memiliki banyak prestasi (entah prestasi apa?!) lalu mereka menegaskan bahwa sikap syiah yang ditetapkan dalam konferensi London 1985 syiah hanya mengakui secara de facto (ingat secara de facto saja bukan secara agama dan secara syar’i) kekhalifahan tiga khalifah sebelum Imam Ali. Jadi mereka itulah yang dimaksud penguasa, dan kita ini pengikut para penguasa bukan para imam yang shalih, tapi penguasa zhalim.

Para pembaca yang beriman dengan mencintai sahabat dan ahlulbait, bukti kalau sahabat abu Bakar dan Umar tidak ada harganya bagi syiah, dan tidak dianggap sebagai sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- yang baik, adalah:

Pertama: didalam daftar 197 sahabat Nabi yang mereka klaim sebagai panutan dan teladan dari halaman 40 sampai 49, tidak ada nama Abu Bakar, Umar, dan Usman. Katanya sahabat nabi yang mulia Yang punya banyak prestasi? Mana Abu Hurairah, Thalhah, al-Zubair, isteri-isteri Nabi -shalallahu alaihi wasalam-?

Yang aneh mereka malah memasukkan Muhammad bin Abu Bakar (al-Shiddiq). Mengapa? Karena ikut menentang kebijakan khalifah Usman dan hidup dalam asuhan Ali bin Abi Thalib -Radiallahuanhu-

Jadi mereka dusta ketika mengatakan abu Bakar dan Umar sahabat nabi yang mulia. Kalau betul mulia tentu disebut pertama kali sesuai dengan urutan sejarah dan keutamaannya atau paling tidak disebut di dalamnya biar dustanya tidak mudah diketahui. Atau paling tidak Muhammad bin abu Bakar tidak dimasukkan sebab ia hanyalah sahabat kecil karena dilahirkan oleh ibunya Asma’ binti Umais saat perjalanannya menuju Makkah dari Madinah untuk haji wada’”.

Read more

AKAR MASALAH KERUSUHAN SAMPANG

(BENTROK SUNNI-SYIAH) Berita ini meskipun agak telat namun masih sangat relevan sebagai salah satu upaya meluruskan sejarah. Kemudian juga sebagai bentuk ralat dari makalah gensyiah sebelumnya yang kurang tepat, yaitu saat menafsiri rekomendasi mui pusat untuk kasus sampan yang berbunyi” Meminta kepada pemerintah agar melakukan langkah-langkah strategis dan positif dalam menyelesaikan masalah konflik yang terjadi … Read more

WASPADA “BUKU PUTIH MAZDHAB SYIAH” YANG TIDAK PUTIH (bag. 1)

KOMENTAR Ingat syiah ingat darah! Ingat Abdullah bin Saba` al-Yahudi! Ingat Majusi Persia yang dendam kepada Islam! ingat kejahatan mereka di Iran, di Irak, di Suria! Ingat agama imamiyyah, mut’ah dan taqiyyah yang penuh kebohongan! Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahirabbil ‘alamin washshalatu wassalamu ala asyrafil anbiya` walmursalin wa aalihi wa shahbihi ajmaiin. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, ini … Read more

KH Abdul Hamid Baidlowi: Said Aqil Siradj menghina Nabi 2X

KH Abdul Hamid Baidlowi (kiri). Said Aqil Siradj (kanan). KH Abdul Hamid Baidlowi (ulama sepuh NU) menyatakan keprihatinan akan meluasnya gerakan Syiah di Indonesia. “Parahnya, NU pun sudah mulai digerogoti akidah Syiah,” kata Kiai Baidlowi yang juga menangisi tahta NU 1 yang kini dijabat alumnus Lirboyo dan Ummul Qura namun akidahnya sesat dan menyesatkan. Keprihatinan … Read more