Laporan Nadwa (Bagian ke-10)

Sabtu, 28 April 2012
Pagi seperti biasa, namun syekh Prof. DR. Nashir al-Qifari, yang datang subuh belum bisa mengisi acara. Sesi kemudian diisi oleh Abu Imad Iraqi menceritakan tentang kondisi Iraq.

 

Abu Imad Iraqi

Kemudian seluruh peserta diagendakan mengunjungi kantor mabarroh al-aal wal-Ashhab untuk menengok maktabah mabarroh (perpustakaan mabarroh yang berisi 11 ribu judul kitab syiah dan sunnah), satu-satunya perpustakaan tentang syiah yang terbesar di dunia.

Kantor Mabarroh

 

Kantor Mabarroh

Habaqat A’lam Syiah

 

Mausuah Kubra Fatimah

 

Safinah Bihar

 

Tashanif Syiah

Setelah mengunjungi maktabah kami pulang ke hotel yang kemudian disusul Abu Misari untuk diantarkan ke kantor wa dzakkir ; sebuah lembaga ahlussunnah milik salah satu keturunan Rasulullah yang rajin menolak syiah.

Kantor Wa Dzakkir

 

Tampak dari luar

 

Bagian dalam kantor

Sore hari, syekh Qifari mengisi tentang “aqaid imamah”, dilanjutkan sampai setelah maghrib dengan membaca kitab beliau yang berjudul Ushul madzhab syiah al-Itsnay Asyriyyah (yang 15 tahun lalu saya diberi mandat untuk menerjemahkannya). Penampilan syekh Qifari memukau semua hadirin, karena pakar dan hafal teks-teks kitab syiah, lengkap dengan tahun wafat para imam, judul kitab, jilid dan halaman. Apalagi beliau murid terdekat syaikh Utsaimin, kenal dekat dengan Ihsan Ilahi Zhahir dan banyak pengalaman. Sampai syekh Jihad dari tunis, peserta terbaik nomor satu (menurut saya) sangat kagum dan memujinya.
Pertemuan saya dengan guru saya Prof. Dr. Nashir al-Qifari kali ini luar biasa, karena pertemuan terakhir dengan beliau adalah tahun 2000 M. Setelah mengisi materi saya dan beliau saling berpelukan melepas kangen dan rindu yang sangat berat. Beliau sangat kaget saat saya maju dan mengatakan: “Syaikhi, ana abu Hamzah Agus Hasan  Bashori.” Maka beliau dengan kaget dan gembira mengatakan: “Agus..?! masyaallah!!!”. Kemudian saya ceritakan kepada beliau bahwa permintaan beliau untuk menerjemah kitab beliau sudah saya mulai dan saya sebarkan melalui web gensyiah.net. Saya juga katakan bahwa titipan beliau untuk saya, lewat Dr. Muhammad al-Khudhairi sudah saya terima. Dan saya katakan bahwa kitab ushul syiah jilid 3 belum saya miliki, maka beliau berjanji untuk memberinya besok.
Melihat kemesraan saya dengan syekh, banyak peserta daurah yang penasaran dan bertanya-tanya lalu menanyakan pada saya, sampai ustadz Hafizh Abdul Basith (murid kesayangan syekh Dr. Ibrahim Ruhaili) dari india berkata: “Ni’ma al-Syaikh wa ni’ma al-Thalib” maka saya katakana “wa anta ni’ma  al-Shahib.”
Ahad, 29 April 2012
Pagi bersama Syekh Prof Dr. Nashir Qifari. Setelah mengisi materi, beliau memberi saya kitab ushul syiah jilid 1, 2, 3. Lalu saya katakana syekh bahwa saya hanya butuh jilid 3. Maka beliaupun menarik kembali jilid 1 dan 2, lalu menandatangani jilid 3. Akhirnya jilid 1 dan 2 diambil oleh Abu Imad Khalil Husain Iraqi.

 

Prof. Dr. Nashir Al Qifari

Sesi sore, syekh al-Qifari merampungkan sajiannya tentang akidah-akidah syiah. Lalu di halaman gedung kita berpamitan dan syekh berkata akan datang ke Indonesia bulan Sya’ban insyaallah. Kemudian putranya, Ashim Nashir Qifari (yang pengacara itu), banyak bicara dengan saya sambil berjalan menuju masjid.

Setelah isyak syekh Dr. abdul muhsin al-Qarafi menyampaikan materi yang luar biasa yaitu tentang “pentingnya mendirikan yayasan”. Yang menyenangkan hati saya, sebelum materi dimulai, syaikh Dr. Khalil abu Anas datang dan berjabat tangan dengan saya, beliau dengan ceria mengatakan: “ahlan Abu Hamzah, wakil 280 juta orang Indonesia” (begitu syekh menyebut secara berlebihan, karena yang benar sekitar 240 juta). Masyaallah, syekh al-Qifari mengatakan: “saya tidak tahu bagaimana antum bisa dengan tepat (muwaffaq)  memilih peserta.” Kemudian saya bertanya: “kenapa syekh?” Syekh Qifari menjawab: “dari Indonesia (yang penduduknya 240 juta), hanya syaikh Agus yang antum undang.” Dr. Khalil abu Anas berkata: “Wallahi, dia satu-satunya orang yang aku kenal dengan baik di Indonesia.!” Maka kami pun (saya dan syekh Abu Anas) tersenyum dan larut dalam canda.
Pada saat syekh dan panitia meminta agar semua berbaris untuk diabadikan dalam agenda Mabarroh, setelah selesai kajian, syekh Abu Muhammad Ahmad al-Rahhal tiba-tiba nyeletuk: “fokuskan pada Abu Hamzah saja!”, maka semua tertawa. Akhirnya,  Syekh Abu Anas menceritakan lagi ucapan Syekh Qifari tadi kepada hadirin, dan ditutup dengan suasan riang gembira.

Syekh Kharafi dan Syekh abu Anas

Alhamdulillah alladzi binikmatihi tatimmu ashshalihat.

Alhamdulillah dari awal hingga akhir. Ya Allah tambahkan kepada kami, keluarga kami, murid-murid kami dan orang-orang yang kami cintai dan mencintai kami serta yang membaca tulisan kami ini ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima, dan selamatkan kami dan anak-anak kami dari api neraka. aamiin ya Rabbal’alamiin.

Bersambung.

Visited 18 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

*