PASUKAN KEADILAN MENEWASKAN 10 TENTARA IRAN

Jaisy al-Adl (Pasukan Keadilan) adalah satu kelompok oposisi Iran yang Sunni di Sistan dan Blochestan. Kelompok ini mulai kegiatannya beberapa bulan setelah dieksekusinya Abdul Malik Rigi, pemimpin Jundallah sebuah gerakan suku Balusyistan, setelah penangkapannya saat melakukan perjalanan ke Kirgizstan melalui memaksaan pesawat untuk mendarat di Bandar Abbas di bagian selatan negeri itu.


Tentara Keadilan ini mengatakan bahwa “ia berperang melawan pasukan Iran untuk mengembalikan hak-hak kaum Sunni di negara itu dan menuduh pemerintah Iran tengah menerapkan rencana sektarianismenya di wilayah itu dan juga di seluruh daerah yang dihuni oleh kaum Sunni.”

Komandan pasukan keadilan ini adalah Abdul Rahim Mollazadeh, mengeluarkan pernyataan sebagai “Shalah al-Din Farooqi,” lahir pada tahun 1979 di kota Rasik dari provinsi Baluchistan. Ia dianggap sebagai salah satu basis perlawanan paling menonjol di Balochistan, dan merupakan bagian dari Jundallah, yang didirikan oleh Abdul Malik Rigi.

Pasukan keadilan ini telah berulang kali melakukan aksi penyerangan kepada pasukan Iran, dan yang paling akhir adalah tanggal 26 april 2017 yang menewaskan 10 tentara Garda Revolusi Iran termasuk perwira tinggi, dan menawan satu perwira lagi.

Pernah dulu di TV al-Jezeerah, pendiri Rabithah Ahlussunnah di Iran Abdurrahim Mullazadah al-Balusyi menjelaskan bahwa serangan-serangan seperti ini adalah sebagai pesan kepada garda revolusi Iran agar menghentikan politik penindasannya dan politik mengubah demografi dengan cara mengusir penduduk Balusyi dari tanahnya, dan mengisyaratkan bahwa sepertiga penduduk Iran adalah Ahlussunnah, namun tertindas dalam rezim sectarian ini.

Silakan tonton oprasi pasukan Keadilan yang menewaskan 10 tentara Iran:

IRAN SARANG TERORIS, SAUDI MENJADI PAHLAWAN MELAWAN TERORISTERORIS

23 Mei 2017

www.gensyiah.net -Terorisme menyerang dan bikin kekacauan di semua negara kecuali di negara yang merawat dan melindunginya yaitu Iran.

Amerika, Uni Eropa dan semua negara mengetahui bahwa Iran adalah negara yang menampung terorisme dan melindunginya. Setelah al-Qaedah lari dari Afghanistan tahun 2003 mereka semua ditampung di Iran. Akan tetapi lobi Iran dan pemerintah Obama menutupi fakta ini dan justru mempersenjatai teroris sehingga Syiah pun berkembang dan ekspansi  sehingga Saudi mengadakan koalisi negara-negara Islam untuk menghadapi ekspansi Iran ini. hasilnya, Syiah terpukul mundur, dan terorisme juga menjadi surut. Ini semua berkat jasa Saudi Arabiya.

Oleh karena itu pemerintah Amerika kemudian memberikan penghargaan kepada badan inteligen Saudi Arabiya dalam kepiawaiannya dalam memberantas terorisme di Yaman, Lebanon, dan Suria.

Silahkan saksikan dalam dokumen berikut ini:

AGAMA IMAMIYYAH ATAU SYIAH BUKAN ISLAM?

DR. KH. Agus Hasan Bashori Lc., M.Ag

إن الحمد لله , نحمده ونستعينه ونستغفره , ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , وسيئات أعمالنا , من يهده الله فلا مضل له , ومن يضلل الله فلا هادي له, وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ؛ وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أما بعد :

Rabu 18 Agustus tahun 20101 saya menulis makalah berjudul “Halal Haram dalam Agama Syiah.”2

Pada waktu saya sidang komisi disertasi di UIKA setahun lalu, salah seorang penguji menggugat penggunaan saya istilah “Agama Syiah atau agama Imamiyyah”, beliau meminta data yang valid, jika tidak maka harus menggunakan istilah sekte Syiah. Setelah saya tunjukkan beberapa referensi Syiah maka beliaupun menerima. Saya sudah lama mengetahui pengakuan kitab-kitab Syiah bahwa Syiah adalah agama, dan saya sudah lama menulis makalah-makalah tentang syiah menyebut dengan istilah Agama Syiah.

Kemarin, saat sidang komisi III tentang media diacara mudzakarah ANNAS II, Ustadz Yusuf Usman Baisa meminta agar istilah agama Syiah dijadikan sebagai Keyword untuk menyebut kelompok pembenci sahabat Nabi ini. maka sayapun mengatakan kepada para peserta sidang, “Insyaallah besok saya buatkan makalah tentang Agama Syiah agar menjadi pertimbangan.” Karena kita butuh cepat maka saya akan mencukupkan dengan menerjemah apa yang ditulis oleh Kawa Muhammad.3 selengkapnya sebagai berikut:

Para ulama Imamiyyah dari dulu hingga kini bersepakat, sebagaimana telah kita jelaskan dengan dokumen dan video bahwa mereka tidak bersama kita dalam segala hal, dalam hal Tuhan, Rasul, dan Kitab suci, dengan demikian Syiah Imamiyyah adalah agama lain. Hal ini juga diakui oleh para ulama, pimpinan dan pembesar mereka. Sehingga sah saja kalau kita mengajukan pertanyaan:

Apakah Imamiyyah itu suatu agama sendiri?

Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman bahwa agama yang benar di sisi-Nya adalah Islam, akan tetapi syiah Rafidhah mengatakan (menyuarakan) agama lain yaitu agama Imamiyyah. Berikut ini adalah kesaksian-kesaksian yang bercecer dari ulama, pimpinan dan pembesar mereka bahwa agama mereka namanya adalah Imamiyyah. Saya tidak menggali lebih dalam, tetapi sekedar menyampaikan yang saya temukan saja:

  1. Al-Majlisi

Al-Majlisi berkata:

ومما عد من ضروريات دين الامامية استحلال المتعة

Diantara yang termasuk pokok agama Imamiyyah yang pasti adalah halalnya nikah mut’ah.” (Al-Aqaid, hal. 58)

  1. Al-Shaduq berkata:

دين الامامية هو الاقرار بتوحيد الله تعالى ذكره

Agama Imamiyyah adalah mengakui tauhid Allah-Subhanahu wa ta’ala-.” (Biharul Anwar milik al-Majlisi, 10/393)

  1. Al-Shaduq berkata:

ومن صام قبل الرؤية أو أفطر قبل الرؤية فهو مخالف لدين الامامية

Barang siiapa berpuasa sebelum rukyah hilal atau berhari raya sebelum melihat hilal maka ia menyalahi agama Imamiyyah.” (Bihar al-Anwar, 10/401)

  1. Al-Shaduq berkata:

ومن شرائط دين الامامية اليقين والاخلاص والتوكل

Diantara Syarat agama Imamiyyah adalah yakin, ikhlash dan tawakkal.” (ibid, 10/404)

  1. Al-Shaduq berkata:

هذا ما اتفق إملاؤه على العجلة من وصف دين الامامية.

ini yang kebetulan bisa didektekan secara cepat dari sifat agama imamiyyah.” (ibid, 10/405)

  1. Imam Al-Ridha menulis surat kepada al-Makmun:

من دين الإمامية لا يفرض الله طاعة من يعلم أنه يضلهم ويغويهم.

Diantara agama Imamiyyah adalah keyakinan bahwa Allah tidak mewajibkan taat orang yang Dia ketahui bahwa Dia menyesatkannya dan menyimpangkannya.” (Ibid. 11/76)

  1. Al-Majlisi berkata:

وهذا من ضروريات دين الامامية وأما الادلة العقلية على ذلك فليس هذا الكتاب محل ذكرها

Ini termasuk pokok ajaran yang pasti dari Agama Imamiyyah. Adapun dalil-dalil aqli atas hal tersebut maka bukan kitab ini tempat menyebutkannya.” (ibid, 17/155)

  1. Al-Majlisi berkata:

حاصله أنكم إذا اعتقدتم ودنتم به إلى دين الامامية فيلزمكم القول بكل ما فيه .

Intinya kalian jika meyakininya dan mentaatinya kepada Agama Imamiyyah maka kalian harus mengucapkan semua yang ada di dalamnya.” (Ibid, 23/39)

  1. Al-Majlisi berkata:

هذا الامر أي دين الامامية.

Perkara ini maksudnya adalah Agama Imamiyyah..” (Ibid, 64/154)

  1. Al-majlisi berkata:

الاعتقاد بالولاية واختيار دين الامامية

meyakini Wilayah dan memilih agama Imamiyyah.” (ibid, 65/202)

  1. Al-Shaduq berkata:

التقية فريضة واجبة علينا في دوله الظالمين، فمن تركها فقد خالف دين الامامية وفارقه.

Taqiyyah adalah fardhu yang wajib atas kita di negera-negara kaum yang zhalim. barang siapa tidak bertaqiyyah maka telah menyalahi agama Imamiyyah dan telah meninggalkannya.” (ibid, 72/421)

  1. Al-Shaduq berkata:

في مجالسه فيما وصف لاصحابه من دين الامامية.

“… di majlis-majlisnya, dalam penjelasannya kepada para sahabatnya tentang Agama Imamiyyah.” (Ibid, 82/178)

  1. Kitab berjudul “Din al-Imamiyyah” tulisan al-Shaduq. Lihat Mu’jam Rijal al-Hadits karya al-Khu`I jilid 17 hal. 345.

  2. Al-Majlisi berkata:

و هذا يدل على أن الأمير كان عالما بحقية دين الإمامية

Ini menunjukkan bahwa Amir (pemerintah) mengetahui tentang kebenaran agama Imamiyyah.” (Mir`atul Uqul Fi Syarh Akhbar Alu Al-Rasul, jilid 6 hal 176)

  1. Al -Majlisi berkata:

الاعتقاد بالولاية و اختيار دين الإمامية 159

Meyakini al-Wilayah dan memilih agama Imamiyyah.” (ibid, 9/159)

  1. Al-Majlisi berkata:

دين الإمامية.

Agama Imamiyyah”. (Ibid, 9/293)

  1. Abbas al-Qummi berkata:

التقية فريضة واجبة علينا في دولة الظالمين، فمن تركها فقد خالف دين الامامية وفارقه.

Taqiyyah adalah Fardhu yang wajib atas kita di negara kaum yang zhalim. Barang siapa meninggalkannya maka dia telah menyalahi Agama Imamiyyah dan telah berpisah dengannya.” (riwayat tentang taqiyyah sangat banyak. Al-Kuna wa al-Alqab, 1/141)

Demikianlah 17 riwayat Syiah menetapkan bahwa Syiah Imamiyyah adalah agama, disebut agama Imamiyyah. Berarti Syiah Imamiyyah bukan Islam, agama Imamiyyah bukan agama Islam.

Hotel Asrilia Bandung, 18 Sya’ban 1438 H/15 Mei 2017

NB.

Baca makalah terkait berikut:

  • Gensyiah vs syiahali

http://www.lppimakassar.com/2012/08/gensyiahcom-vs-syiahaliwordpresscom.html

1 Dimuat di http://old.gensyiah.com/halal-haram-dalam-agama-syiah.html

2 http://www.gensyiah.net/halal-haram-dalam-agama-syiah/

3 http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=143565

مشكلة الشيعة في ماليزيا وطريقة مكافحتها

الشيخ الدكتور كياهي الحاج أغوس حسن بصري

(Problematika Syiah di Malaysia dan cara penanggulangannya, oleh Dr. KH. Agus Hasan Bashori Lc., M.Ag)

silahkan Download ppt berjudul Problematika Syiah di Malaysia dan cara penanggulangannya, oleh Dr. KH. Agus Hasan Bashori Lc., M.Ag yang disampaikan dalam konferensi Persatuan Umat dan Sunnah yang dibuka oleh

Ketua MPR Republik Indonesia, Zulkifli Hasanpada tanggal 7 April 2017

Aqidah Syi’ah Terhadap Al-Qur’an

FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH

  1. O. BAABDULLAH

(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)

Wahai kaum Muslimin – semoga anda diberi rahmat oleh Allah swt – berikut ini marilah dicamkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para Imam dan Ulama Islam, yang dengan pernyataan mereka yang tegas menyatakan kekafiran Syi’ah Rafizhah Imamiah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah serta terhempasnya mereka dari Islam laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Dalil yang digunakan oleh para Ulama dalam menetapkan hukum tersebut adalah dalil-dalil Qathi’, di mana golongan yang telah keluar dari Islam ini sudah berbeda prinsip maupun detailnya serta konsep-konsepnya dari Aqidah Ahlil Kiblat, yaitu Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, agar kaum muslimin tidak terkecoh oleh mereka dan dengan secara jelas memahami golongan yang telah keluar dari Islam ini serta aqidah-aqidahnya yang sesat.

Golongan yang telah keluar dari Islam ini berusaha dengan berbagai macam cara menyelubungi dirinya di balik slogan-slogan yang sesat, bahwa mereka “masih termasuk Ahlil Kiblat” dengan mengerahkan kemampuan penulisan dan propagandis bayaran mereka. Untuk dakwah dan propagandanya ini golongan tersebut membelanjakan harta yang banyak sekali guna menjaring orang-orang awam dan memasukkan mereka di dalam jebakannya. Golongan ini terkadang mempergunakan slogan “demi persaudaraan Islam”, padahal mereka adalah manusia yang paling jauh dari Islam dan pengikutnya. Terkadang pula mereka menggunakan slogan “sambung rasa” antara golongan Sunnah dan Syi’ah. Tetapi bagaimana mungkin dan kapan bisa terjadi adanya “sambung rasa” antara yang hak dengan yang bathil. Prinsip apa yang akan digunakan untuk membangun persatuan antara yang baik dengan yang buruk. Bagaimana bisa berhasil mempertemukan serta terjadinya kesepakatan antara hidayah dan kesesatan?. Dan terkadang di tampilkan slogan “apakah boleh mengkafirkan golongan sesama satu Kiblat?” Slogan-slogan tersebut memang benar, tetapi dimanipulasi untuk tujuan bathil. Sebab Ahlil Kiblat tidak akan berdusta atas nama Allah dan tidak menyatakan sesuatu pernyataan seperti yang dikatakan oleh golongan Syi’ah, bahwa Karbala, Qom, Kufah lebih mulia daripada kota Makkah dan Madinah. Ahlil Kiblat tidak akan mengatakan “barangsiapa pergi haji 20 kali ke Makkah tertulis pahalanya senilai dengan sekali pergi ziarah ke kuburan Husein”. Ahlil Kiblat tidak akan berkeyakinan bahwa “Allah menyaksikan para pengunjung kuburan Husein sebelum menyaksikan para Haji di Arafah”. Ahlil Kiblat tidak akan berdusta atas nama Allah sebagaimana diucapkan dan menjadi keyakinan golongan Syi’ah, bahwa Allah berkata kepada Ka’bah: “Pemberian-Ku kepadamu bila dibandingkan dengan pemberian-Ku kepada bumi Karbala adalah laksana kelembaban sebuah jarum yang dicelup dalam laut berbanding dengan air laut itu. Sekiranya tidak karena bumi Karbala, niscaya Aku tidak memuliakanmu dan sekiranya tidak karena orang yang terkubur di bumi Karbala, niscaya Aku tidak menciptakanmu.”

Bualan dan kebohongan yang berjejal ditulis oleh seorang ulama Syi’ah Rafizhah Istna Asy’ariyah Ja’fariyah, bernama Al Hurru Al ‘Amili di dalam bukunya “Wassailus Syi’ah” jilid v, niscaya Ahlul Kiblat tidak akan mengucapkannya, dan tidak mungkin diucapkannya. Akan tetapi orang-orang yang mengatakan dan mempercayai bualan serta kebohongan semacam ini dan kesesatan seperti itu adalah golongan Syi’ah Rafizhah Imamiyah. Karena mereka memang bukan Ahlil Kiblat dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam dan umatnya.

Wahai kaum Muslimin – semoga anda diberi rahmat oleh Allah swt. Demi memahami dan mengerti dengan jelas masalah Syi’a Rafizhah Imamiyah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah, maka di dalam sajian ini kami akan ketengahkan keyakinan Syi’ah terhadap Al-Qur’an. Bahwa menurut mereka Al-Qur’an telah diubah, telah ditambah dan dikurangi. Sedangkan Al-Qur’an yang asli sesungguhnya ada ditangan juru selamat yang mereka khayalkan dan ditunggu kedatangannya, dimana Al-Qur’an itu adalah tiga kali lebih banyak daripada yang ada ditangan umat Islam. Mereka percaya bahwa Imam-imam mereka mengetahui soal-soal ghaib, dan imam-imam itu baru bisa mati bila mereka berkehendak untuk mati. Mereka itu adalah orang-orang yang terpelihara dari segala kekurangan dan dosa, lebih mulia dari para Nabi dan Rasul, mengetahui apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi serta mengetahui segala isi surga dan neraka. Mereka menyatakan dan berkeyakinan, bahwa para sahabat yang telah mendapat ridha Allah itu setelah Rasulullah wafat semuanya murtad dari Islam, kecuali belasan orang sahabat. Mereka berkeyakinan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman dan para istri Rasulullah ‘Aisyah dan Hafsah serta sahabat Thalhah dan Zubair serta orang-orang yang mengikuti mereka, (semoga Allah melindungi kita) adalah orang-orang Zindiq dan kafir. Kebohongan, keyakinan dan pernyataan kekafiran yang mengeluarkan orang dari Islam lagi sesat serta menyesatkan semacam ini, mereka tulis didalam buku-buku induk mereka dan menjadi prinsip-prinsip agama dan panduan mereka. Di antara buku-buku yang telah menjadi kiblat mereka dan prinsip-prinsip agama mereka kami jadikan sebagai bukti kepada mereka agar menjadi binasa orang yang melawan bukti kebenaran dan menjadi selamat orang yang mau mengikuti kebenaran. Allahlah pemberi petunjuk kepada jalan yang benar.

Wahai kaum Muslimin, berikut ini adalah kepercayaan yang menjadi Aqidah Syi’ah dan pernyataan yang tercantum di dalam buku-buku induk mereka. Marilah kita mulai dengan mengkaji kepercayaan mereka terhadap Al-Qur’an:

  1. Abu Abdullah a.s berkata: “Al-Qur’an yang dibawa oleh jibril a.s kepada Muhammad saw adalah tujuh belas ribu ayat”. (Al Kaafi fil Ushul, 2:634, cetakan Teheran Iran).
  2. Dari padanya pula: “Pada pihak kami sungguh ada Mush-haf Fathimah a.s dan tahukah mereka apa Mush-haf Fathimah itu? Jawabnya: “Mush-haf Fathimah itu isinya tiga kali lipat dibanding dengan Al-Qur’an kalian ini. Demi Allah, tidak satu pun huruf dari Al-Qur’an tersebut terdapat dalam Al-Qur’an kalian”. (Al Kaafi fil Ushul, 1:240-241).
  3. Dari Jabir, dari Abu Ja’far a.s, ia berkata: “Saya bertanya: “Mengapa Ali bin Abi Thalib dinamakan Amirul Mukminin?” Jawabnya: “Allah yang menamakan demikian. Begitulah yang telah diturunkan di dalam kitab Suci-Nya yaitu firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلىٰ اَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلِيْ وَأَنَّ عَلِيًّا أَمِيْرُالْمُؤْمِنِيْنَ.

Artinya: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari Bani Adam, dari punggung mereka anak keturunan mereka dan Ia jadikan mereka saksi atas diri mereka sendiri: Bukankah Aku ini Tuhan kamu dan Muhammad Rasul-Ku dan Ali adalah Amirul Mukminin?” (Al Kaafi Kitabul Hujjah, 1:437, cet. Teheran Iran).

  1. Diriwayatkan pula, ia berkata : “Jibril turun membawa ayat ini kepada Muhammad dengan bunyi demikian:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلىٰ عَبْدِنَا فِيْ عَلِيٍّ فَأ ْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِنْ مِثْلِهِ.

Artinya: “Dan jika kamu sekalian meragukan terhadap apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami tentang Ali, maka datangkanlah satu surat saja yang serupa dengannya”. (Al Kaafi Kitabul Hujjah, 1:417, cet. Teheran Iran).

  1. Dari Abi Bashir, dari Abu Abdillah a.s tentang firman Allah:

مَنْ يُطِعِ آلله َوَرَسُوْلَهُ فِيْ وِلاَيَةِ عَلِيٍّ وَاْلأَئِمَّةِ بَعْدَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Artinya: “Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya didalam urusan kewalian Ali dan para Imam sesudahnya, maka sesungguhnya ia memperoleh kemenangan yang besar”, demikianlah ayat tersebut diturunkan”. (Al Kaafi Kitabul Hujjah, 1:414, cet. Teheran Iran).

Inilah dia keyakinan kaum Syi’ah terhadap Al-Qur’an, suatu keyakinan kafir lagi keluar dari Islam, laksana keluarnya anak panah dari busurnya, sepercik dari yang banyak ini bisa anda temukan pada kitab-kitab induk mereka yang terkenal, dari buku Al Kaafi karya Al Kulaini dari tafsir Al Qummi dan buku Al Ihtijaj karya Thibrisi, buku Bashairud Darajaat karya Shafar, dan Hayatul Qulub karya Al Majlisi, Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani dan tafsir Ash-Shafi karya Muhsin Al Kashi. Juga buku Fashlul Khithab fi Itsbattahriifi Kitaabi Rabbil Arbaab karya ulama Syi’ah bernama Mirza Taqiyyunnuuri At-Thibrisi, buku Al Anwar an-Nu’maniyah karya Ni’matullah Al Jazairi, dan buku Kasyful Asrar karya Khumaini dan lain-lain lagi. Tidak satu pun kitab dari buku-buku induk Syi’ah yang menjadi pegangan mereka terlepas dari keyakinan yang merupakan identitas mereka ini, mereka kaitkan keyakinan semacam itu kepada para imam mereka yang mereka anggap ma’shum, anggapan yang penuh kepalsuan dan kebohongan , dan mengada-ada atas nama Allah, dan para Aulianya. Para Imam tersebut sebenarnya bersih dari kebohongan dan tipu daya yang mereka lakukan itu. Keyakinan-keyakinan semacam itu tentang Al-Qur’an sebagaimana tercantum penuh di dalam buku-buku induk Syi’ah, hanyalah bisa dikatakan dan dipercayai oleh orang kafir lagi lepas dari Islam, karena Allah telah berfirman di dalam Kitab Suci-Nya sebagai berikut:

1.

الم • ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Alif Lam Mim. Itulah Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al Baqarah: 1-2)

2.

لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Artinya: ” Tiada tersentuh oleh kebatilan di masanya dan tidak pula sesudahnya. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (Fushshilat: 42).

3.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya: ” Sungguh Kami sendirilah yang menurunkan Adz-Dzikir ini dan sungguh Kami sendiri yang memeliharanya, (Al Hijr: 9).

Ayat-ayat yang terang lagi jelas ini, seterang matahari di siang bolong adalah menjadi bukti yang jelas lagi mendasar, bahwa Al-Qur’an sungguh-sungguh terjaga dan terpelihara. Penjaganya adalah Allah, Tuhan yang telah menurunkan kebenaran tersebut. Dia menurunkannya untuk memberikan penjelasan mengenai berbagai masalah dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Demikianlah kepercayaan Ahlul Kiblat, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan bukan kepercayaan orang-orang yang mengaku-aku, sekalipun mereka dengan menggunakan seribu dalih dan menghiasi pengakuan-pengakuan mereka itu dengan kata-kata manis dan menarik agar barang dagangan mereka laris. Karena kitab-kitab mereka sendiri telah mendustakan mereka dan menjadi “senjata makan tuan”.

Jika golongan Syi’ah membantah dengan kata-kata: “Bagaimana bisa terjadi begitu, padahal kami membaca Al-Qur’an yang sama seperti Al-Qur’an yang ada dan kami melaksanakan hukum-hukumnya?” Kami menjawab, “Dari ucapanmu sendiri kusumbat mulutmu dan dari tempat minummu kulepas dahagamu”. Karena itu wahai golongan Syi’ah, dengarlah kata-kata yang diucapkan oleh ulama kamu dan pemimpin kamu yang agung, Ni’matullah al Jazairi, dalam bukunya yang tebal Al Anwar an-Nu’maniyah 2 hlm. 363-364, cetakan Teheran, sebagai berikut:

  1. Ia berkata: Jika anda bertanya, mengapa (kami) dibenarkan membaca Al-Qur’an ini, padahal ia telah mengalami perubahan?” Saya menjawab: “Telah diriwayatkan di dalam banyak riwayat bahwa mereka (para imam Syi’ah) menyuruh golongan mereka untuk membaca Al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam di waktu shalat dan lain-lain dan melaksanakan hukum-hukumnya sampai kelak datang waktunya pemimpin kita, Shahibuz Zaman, muncul lalu menarik dari beredarnya Al-Qur’an yang ada di tengah umat Islam ini ke langit dan mengeluarkan Al-Qur’an yang dahulu disusun oleh Amirul Mukminin as, lalu Al-Qur’an inilah yang dibaca dan di amalkan hukum-hukumnya”. Riwayat-riwayat yang menyebutkan pernyataan seperti ini banyak sekali.
  2. Ulama mereka yang bernama Al Karmani telah berkata di dalam buku “Ar-Raddu ‘ala Hasyim Assyami, halaman 13, cetakan Karman Iran”: “Telah terjadi perubahan kalimat, pemindahan dan pengurangan di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an yang sebenar-benarnya terpelihara hanyalah yang ada di tangan Al Qaaim (Imam ke- 12 yang ghaib) dan golongan Syi’ah sebenarnya hanyalah karena terpaksa membaca Al-Qur’an yang ada ini karena taqiyyah yang diperintahkan oleh keluarga Muhammad a.s”(imam-imam mereka).

Inilah dia I’tikad kaum Syi’ah terhadap Al-Qur’an dan demikianlah tertulis dalam buku-buku induk mereka serta bimbingan dari para Imam dan ulama mereka menjadi saksi pada diri mereka, sekalipun mereka menolak dan menutupi, dan sekalipun mereka menjadi panik dengan berbagai dalih dan taqiyyah, terkecuali mereka berlepas diri dari keyakinan mereka itu dan kitab-kitab induk mereka yang merupakan sumber-sumber kekufuran, kebejatan, dan kesesatan, kemudian dengan terus terang mengumumkan taubat mereka kepada Allah dan kembali kepada kebenaran dan jalan lurus – karena di luar kebenaran yang ada hanyalah kesesatan. Karena itu kemanakah kalian akan berpaling-.

Sumber : http://old.gensyiah.com/aqidah-syiah-terhadap-al-quran.html

Perbesanan (Mushaharah) Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka

Perbesanan Antara Ahlul Bait Dengan Anak Keturunan Paman-paman Mereka

Keturunan Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam tidaklah terkucil atau mengucilkan diri dari masyarakat, tetapi tersebar dan terikat dengan hubungan yang luas dengan mereka. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya hubungan perbesanan antara mereka dan antara anak keturunan paman-paman mereka, di setiap generasinya. Bahkan 3 dari putri Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam berada dalam rumah tangga orang-orang Quraisy.

Ada 8 (delapan) perbesanan antara ahlul bait dengan keluarga besar Utsman rodhiallohu ‘anhu. 6 (enam) perbesanan bersama keluarga besar Marwan ibnil Hakam, dan 4 (empat) perbesanan dengan keluarga besar Abu Sufyan rodhiallohu ‘anhu . yang paling mulia secara mutlak adalah perkawinan Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam dengan Ummu Habibah  (Ramlah) binti Abu Sufyan –radhiyallahuma- dan yang termasuk istri Nabi yang paling dekat nasabnya dengan beliau.

Dari sekian perbesanan ini ada 13 perbesanan dengan keluarga besar Ali ibn Abi Thalib rodhiallohu ‘anhu, yang sebagian besarnya terjadi setelah peristiwa: Shiffin, Jamal dan Karbala.

Tidak cukup mereka berdekatan dan berhubungan secara nasab (garis keturunan, atau hubungan darah)  namun mereka menambah kedekatan dan keakraban dengan mushaharah (perbesanan), yang demikian itu karena mereka ingin bersambung dengan nasab Nabi yang mulia yang tidak akan putus di hari dimana semua nasab dan sebab terputus. (Abu Hamzah)

Keterangan gambar pohon Nasab:

  1. Kesamaan nomor adalah menunjukkan adanya hubungan mushaharah (perbesanan, pernikahan) antara dua orang yang mulia ini dari Bani Hasyim dan anak keturunan paman mereka.
  2. Untuk hubungan perbesanan antara ahlul bait dengan Usman ibn Affan rodhiallohu ‘anhu akan kita sendirikan karena pertingnya.
  3. Dengan pohon  nasab ini menjadi nyatalah hubungan kasih sayang dan kekeluargaan yang mesra antara ahlul bait dengan para sahabat Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, dan bahwasanya mushaharah di antara mereka terjadi sebelum peristiwa-peristiwa fitnah hingga sesudahnya. Suatu hal yang menunjukkan bahwa  hubungan yang harmonis diantara mereka tetap terjaga sepanjang generasi dan sejarah.

Sumber : http://old.gensyiah.com/perrbesanan-mushaharah-antara-ahlul-bait-dengan-anak-keturunan-paman-paman-mereka.html