Category Archives: Artikel

Apakah nama negara kita menurut syara’ agama Islam?

Hasil Keputusan Muktamar ke-11 NU di Banjarmasin, tahun 1355 H atau 1936 M

(Sebelum berdiri Republik Indonesia 1945M)

Pertanyaan :

Apakah nama negara kita menurut syara’ agama Islam?

Jawaban :

Sesungguhnya negara kita Indonesia dinamakan “negara Islam” karena telah pernah dikuasai sepenuhnya oleh orang Islam. Walaupun pernah direbut oleh penjajah kafir, tetapi nama negara islam tetap selamanya.

Keterangan diambil dari kitab Bughyatul Mustarsyidin karangan Sayed Abdurrahman bin Muhammad bin Husein bin Umar atau dikenal dengan Syeikh Ba’lawi, pada bab Hudnah wal Imamah, redaksinya begini:

مسألة : كل محل قدر مسلم ساكن به في زمن من الأزمان يصير دار إسلام تجري عليه أحكامه في ذالك الزمان ومابعده وإن انقطع امتناع المسلمين باستيلاء الكفار عليهم ومنعهم من دخوله وإخراجهم منه وحينئذ فتسميته دار حرب صورة لاحكما فعلم أن أرض بتاوي وغالب أرض جاوة دار إسلام لاستيلاء المسلمين عليها قبل الكفار

Semua tempat dimana muslim mampu untuk menempatinya pada suatu masa tertentu, maka ia menjadi daerah Islam yang ditandai berlakunya syariat Islam pada masa itu.

Sedangkan pada masa sesudahnya walaupun kekuasaan umat Islam telah terputus oleh penguasaan orang-orang kafir terhadap mereka, dan larangan mereka untuk memasukinya kembali atau pengusiran terhadap mereka,

maka dalam kondisi semacam ini, penamaannya dengan “daerah perang'” (Darul harb) hanya merupakan bentuk FORMALNYA dan TIDAK HUKUMMNYA.

Dengan demikian diketahui bahwa tanah Betawi dan bahkan sebagian besar Tanah Jawa adalah “Daerah Islam” (darul Islam) karena umat Islam pernah menguasainya sebelum penguasaan orang-orang kafir.

Tanah jawa pada masa lalu adalah daerah nusantara, penulis kitab kalau menamakan dirinya Al Jawi, berarti berasal dari tanah Indonesia.

AGAMA IMAMIYYAH ATAU SYIAH BUKAN ISLAM?

DR. KH. Agus Hasan Bashori Lc., M.Ag

إن الحمد لله , نحمده ونستعينه ونستغفره , ونعوذ بالله من شرور أنفسنا , وسيئات أعمالنا , من يهده الله فلا مضل له , ومن يضلل الله فلا هادي له, وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له ؛ وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أما بعد :

Rabu 18 Agustus tahun 20101 saya menulis makalah berjudul “Halal Haram dalam Agama Syiah.”2

Pada waktu saya sidang komisi disertasi di UIKA setahun lalu, salah seorang penguji menggugat penggunaan saya istilah “Agama Syiah atau agama Imamiyyah”, beliau meminta data yang valid, jika tidak maka harus menggunakan istilah sekte Syiah. Setelah saya tunjukkan beberapa referensi Syiah maka beliaupun menerima. Saya sudah lama mengetahui pengakuan kitab-kitab Syiah bahwa Syiah adalah agama, dan saya sudah lama menulis makalah-makalah tentang syiah menyebut dengan istilah Agama Syiah.

Kemarin, saat sidang komisi III tentang media diacara mudzakarah ANNAS II, Ustadz Yusuf Usman Baisa meminta agar istilah agama Syiah dijadikan sebagai Keyword untuk menyebut kelompok pembenci sahabat Nabi ini. maka sayapun mengatakan kepada para peserta sidang, “Insyaallah besok saya buatkan makalah tentang Agama Syiah agar menjadi pertimbangan.” Karena kita butuh cepat maka saya akan mencukupkan dengan menerjemah apa yang ditulis oleh Kawa Muhammad.3 selengkapnya sebagai berikut:

Para ulama Imamiyyah dari dulu hingga kini bersepakat, sebagaimana telah kita jelaskan dengan dokumen dan video bahwa mereka tidak bersama kita dalam segala hal, dalam hal Tuhan, Rasul, dan Kitab suci, dengan demikian Syiah Imamiyyah adalah agama lain. Hal ini juga diakui oleh para ulama, pimpinan dan pembesar mereka. Sehingga sah saja kalau kita mengajukan pertanyaan:

Apakah Imamiyyah itu suatu agama sendiri?

Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman bahwa agama yang benar di sisi-Nya adalah Islam, akan tetapi syiah Rafidhah mengatakan (menyuarakan) agama lain yaitu agama Imamiyyah. Berikut ini adalah kesaksian-kesaksian yang bercecer dari ulama, pimpinan dan pembesar mereka bahwa agama mereka namanya adalah Imamiyyah. Saya tidak menggali lebih dalam, tetapi sekedar menyampaikan yang saya temukan saja:

  1. Al-Majlisi

Al-Majlisi berkata:

ومما عد من ضروريات دين الامامية استحلال المتعة

Diantara yang termasuk pokok agama Imamiyyah yang pasti adalah halalnya nikah mut’ah.” (Al-Aqaid, hal. 58)

  1. Al-Shaduq berkata:

دين الامامية هو الاقرار بتوحيد الله تعالى ذكره

Agama Imamiyyah adalah mengakui tauhid Allah-Subhanahu wa ta’ala-.” (Biharul Anwar milik al-Majlisi, 10/393)

  1. Al-Shaduq berkata:

ومن صام قبل الرؤية أو أفطر قبل الرؤية فهو مخالف لدين الامامية

Barang siiapa berpuasa sebelum rukyah hilal atau berhari raya sebelum melihat hilal maka ia menyalahi agama Imamiyyah.” (Bihar al-Anwar, 10/401)

  1. Al-Shaduq berkata:

ومن شرائط دين الامامية اليقين والاخلاص والتوكل

Diantara Syarat agama Imamiyyah adalah yakin, ikhlash dan tawakkal.” (ibid, 10/404)

  1. Al-Shaduq berkata:

هذا ما اتفق إملاؤه على العجلة من وصف دين الامامية.

ini yang kebetulan bisa didektekan secara cepat dari sifat agama imamiyyah.” (ibid, 10/405)

  1. Imam Al-Ridha menulis surat kepada al-Makmun:

من دين الإمامية لا يفرض الله طاعة من يعلم أنه يضلهم ويغويهم.

Diantara agama Imamiyyah adalah keyakinan bahwa Allah tidak mewajibkan taat orang yang Dia ketahui bahwa Dia menyesatkannya dan menyimpangkannya.” (Ibid. 11/76)

  1. Al-Majlisi berkata:

وهذا من ضروريات دين الامامية وأما الادلة العقلية على ذلك فليس هذا الكتاب محل ذكرها

Ini termasuk pokok ajaran yang pasti dari Agama Imamiyyah. Adapun dalil-dalil aqli atas hal tersebut maka bukan kitab ini tempat menyebutkannya.” (ibid, 17/155)

  1. Al-Majlisi berkata:

حاصله أنكم إذا اعتقدتم ودنتم به إلى دين الامامية فيلزمكم القول بكل ما فيه .

Intinya kalian jika meyakininya dan mentaatinya kepada Agama Imamiyyah maka kalian harus mengucapkan semua yang ada di dalamnya.” (Ibid, 23/39)

  1. Al-Majlisi berkata:

هذا الامر أي دين الامامية.

Perkara ini maksudnya adalah Agama Imamiyyah..” (Ibid, 64/154)

  1. Al-majlisi berkata:

الاعتقاد بالولاية واختيار دين الامامية

meyakini Wilayah dan memilih agama Imamiyyah.” (ibid, 65/202)

  1. Al-Shaduq berkata:

التقية فريضة واجبة علينا في دوله الظالمين، فمن تركها فقد خالف دين الامامية وفارقه.

Taqiyyah adalah fardhu yang wajib atas kita di negera-negara kaum yang zhalim. barang siapa tidak bertaqiyyah maka telah menyalahi agama Imamiyyah dan telah meninggalkannya.” (ibid, 72/421)

  1. Al-Shaduq berkata:

في مجالسه فيما وصف لاصحابه من دين الامامية.

“… di majlis-majlisnya, dalam penjelasannya kepada para sahabatnya tentang Agama Imamiyyah.” (Ibid, 82/178)

  1. Kitab berjudul “Din al-Imamiyyah” tulisan al-Shaduq. Lihat Mu’jam Rijal al-Hadits karya al-Khu`I jilid 17 hal. 345.

  2. Al-Majlisi berkata:

و هذا يدل على أن الأمير كان عالما بحقية دين الإمامية

Ini menunjukkan bahwa Amir (pemerintah) mengetahui tentang kebenaran agama Imamiyyah.” (Mir`atul Uqul Fi Syarh Akhbar Alu Al-Rasul, jilid 6 hal 176)

  1. Al -Majlisi berkata:

الاعتقاد بالولاية و اختيار دين الإمامية 159

Meyakini al-Wilayah dan memilih agama Imamiyyah.” (ibid, 9/159)

  1. Al-Majlisi berkata:

دين الإمامية.

Agama Imamiyyah”. (Ibid, 9/293)

  1. Abbas al-Qummi berkata:

التقية فريضة واجبة علينا في دولة الظالمين، فمن تركها فقد خالف دين الامامية وفارقه.

Taqiyyah adalah Fardhu yang wajib atas kita di negara kaum yang zhalim. Barang siapa meninggalkannya maka dia telah menyalahi Agama Imamiyyah dan telah berpisah dengannya.” (riwayat tentang taqiyyah sangat banyak. Al-Kuna wa al-Alqab, 1/141)

Demikianlah 17 riwayat Syiah menetapkan bahwa Syiah Imamiyyah adalah agama, disebut agama Imamiyyah. Berarti Syiah Imamiyyah bukan Islam, agama Imamiyyah bukan agama Islam.

Hotel Asrilia Bandung, 18 Sya’ban 1438 H/15 Mei 2017

NB.

Baca makalah terkait berikut:

  • Gensyiah vs syiahali

http://www.lppimakassar.com/2012/08/gensyiahcom-vs-syiahaliwordpresscom.html

1 Dimuat di http://old.gensyiah.com/halal-haram-dalam-agama-syiah.html

2 http://www.gensyiah.net/halal-haram-dalam-agama-syiah/

3 http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=143565

Aqidah Syi’ah Terhadap Al-Qur’an

FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH

  1. O. BAABDULLAH

(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)

Wahai kaum Muslimin – semoga anda diberi rahmat oleh Allah swt – berikut ini marilah dicamkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh para Imam dan Ulama Islam, yang dengan pernyataan mereka yang tegas menyatakan kekafiran Syi’ah Rafizhah Imamiah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah serta terhempasnya mereka dari Islam laksana anak panah yang lepas dari busurnya. Dalil yang digunakan oleh para Ulama dalam menetapkan hukum tersebut adalah dalil-dalil Qathi’, di mana golongan yang telah keluar dari Islam ini sudah berbeda prinsip maupun detailnya serta konsep-konsepnya dari Aqidah Ahlil Kiblat, yaitu Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, agar kaum muslimin tidak terkecoh oleh mereka dan dengan secara jelas memahami golongan yang telah keluar dari Islam ini serta aqidah-aqidahnya yang sesat.

Golongan yang telah keluar dari Islam ini berusaha dengan berbagai macam cara menyelubungi dirinya di balik slogan-slogan yang sesat, bahwa mereka “masih termasuk Ahlil Kiblat” dengan mengerahkan kemampuan penulisan dan propagandis bayaran mereka. Untuk dakwah dan propagandanya ini golongan tersebut membelanjakan harta yang banyak sekali guna menjaring orang-orang awam dan memasukkan mereka di dalam jebakannya. Golongan ini terkadang mempergunakan slogan “demi persaudaraan Islam”, padahal mereka adalah manusia yang paling jauh dari Islam dan pengikutnya. Terkadang pula mereka menggunakan slogan “sambung rasa” antara golongan Sunnah dan Syi’ah. Tetapi bagaimana mungkin dan kapan bisa terjadi adanya “sambung rasa” antara yang hak dengan yang bathil. Prinsip apa yang akan digunakan untuk membangun persatuan antara yang baik dengan yang buruk. Bagaimana bisa berhasil mempertemukan serta terjadinya kesepakatan antara hidayah dan kesesatan?. Dan terkadang di tampilkan slogan “apakah boleh mengkafirkan golongan sesama satu Kiblat?” Slogan-slogan tersebut memang benar, tetapi dimanipulasi untuk tujuan bathil. Sebab Ahlil Kiblat tidak akan berdusta atas nama Allah dan tidak menyatakan sesuatu pernyataan seperti yang dikatakan oleh golongan Syi’ah, bahwa Karbala, Qom, Kufah lebih mulia daripada kota Makkah dan Madinah. Ahlil Kiblat tidak akan mengatakan “barangsiapa pergi haji 20 kali ke Makkah tertulis pahalanya senilai dengan sekali pergi ziarah ke kuburan Husein”. Ahlil Kiblat tidak akan berkeyakinan bahwa “Allah menyaksikan para pengunjung kuburan Husein sebelum menyaksikan para Haji di Arafah”. Ahlil Kiblat tidak akan berdusta atas nama Allah sebagaimana diucapkan dan menjadi keyakinan golongan Syi’ah, bahwa Allah berkata kepada Ka’bah: “Pemberian-Ku kepadamu bila dibandingkan dengan pemberian-Ku kepada bumi Karbala adalah laksana kelembaban sebuah jarum yang dicelup dalam laut berbanding dengan air laut itu. Sekiranya tidak karena bumi Karbala, niscaya Aku tidak memuliakanmu dan sekiranya tidak karena orang yang terkubur di bumi Karbala, niscaya Aku tidak menciptakanmu.”

Bualan dan kebohongan yang berjejal ditulis oleh seorang ulama Syi’ah Rafizhah Istna Asy’ariyah Ja’fariyah, bernama Al Hurru Al ‘Amili di dalam bukunya “Wassailus Syi’ah” jilid v, niscaya Ahlul Kiblat tidak akan mengucapkannya, dan tidak mungkin diucapkannya. Akan tetapi orang-orang yang mengatakan dan mempercayai bualan serta kebohongan semacam ini dan kesesatan seperti itu adalah golongan Syi’ah Rafizhah Imamiyah. Karena mereka memang bukan Ahlil Kiblat dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Islam dan umatnya.

Wahai kaum Muslimin – semoga anda diberi rahmat oleh Allah swt. Demi memahami dan mengerti dengan jelas masalah Syi’a Rafizhah Imamiyah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah, maka di dalam sajian ini kami akan ketengahkan keyakinan Syi’ah terhadap Al-Qur’an. Bahwa menurut mereka Al-Qur’an telah diubah, telah ditambah dan dikurangi. Sedangkan Al-Qur’an yang asli sesungguhnya ada ditangan juru selamat yang mereka khayalkan dan ditunggu kedatangannya, dimana Al-Qur’an itu adalah tiga kali lebih banyak daripada yang ada ditangan umat Islam. Mereka percaya bahwa Imam-imam mereka mengetahui soal-soal ghaib, dan imam-imam itu baru bisa mati bila mereka berkehendak untuk mati. Mereka itu adalah orang-orang yang terpelihara dari segala kekurangan dan dosa, lebih mulia dari para Nabi dan Rasul, mengetahui apa yang sudah terjadi dan apa yang akan terjadi serta mengetahui segala isi surga dan neraka. Mereka menyatakan dan berkeyakinan, bahwa para sahabat yang telah mendapat ridha Allah itu setelah Rasulullah wafat semuanya murtad dari Islam, kecuali belasan orang sahabat. Mereka berkeyakinan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman dan para istri Rasulullah ‘Aisyah dan Hafsah serta sahabat Thalhah dan Zubair serta orang-orang yang mengikuti mereka, (semoga Allah melindungi kita) adalah orang-orang Zindiq dan kafir. Kebohongan, keyakinan dan pernyataan kekafiran yang mengeluarkan orang dari Islam lagi sesat serta menyesatkan semacam ini, mereka tulis didalam buku-buku induk mereka dan menjadi prinsip-prinsip agama dan panduan mereka. Di antara buku-buku yang telah menjadi kiblat mereka dan prinsip-prinsip agama mereka kami jadikan sebagai bukti kepada mereka agar menjadi binasa orang yang melawan bukti kebenaran dan menjadi selamat orang yang mau mengikuti kebenaran. Allahlah pemberi petunjuk kepada jalan yang benar.

Wahai kaum Muslimin, berikut ini adalah kepercayaan yang menjadi Aqidah Syi’ah dan pernyataan yang tercantum di dalam buku-buku induk mereka. Marilah kita mulai dengan mengkaji kepercayaan mereka terhadap Al-Qur’an:

  1. Abu Abdullah a.s berkata: “Al-Qur’an yang dibawa oleh jibril a.s kepada Muhammad saw adalah tujuh belas ribu ayat”. (Al Kaafi fil Ushul, 2:634, cetakan Teheran Iran).
  2. Dari padanya pula: “Pada pihak kami sungguh ada Mush-haf Fathimah a.s dan tahukah mereka apa Mush-haf Fathimah itu? Jawabnya: “Mush-haf Fathimah itu isinya tiga kali lipat dibanding dengan Al-Qur’an kalian ini. Demi Allah, tidak satu pun huruf dari Al-Qur’an tersebut terdapat dalam Al-Qur’an kalian”. (Al Kaafi fil Ushul, 1:240-241).
  3. Dari Jabir, dari Abu Ja’far a.s, ia berkata: “Saya bertanya: “Mengapa Ali bin Abi Thalib dinamakan Amirul Mukminin?” Jawabnya: “Allah yang menamakan demikian. Begitulah yang telah diturunkan di dalam kitab Suci-Nya yaitu firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلىٰ اَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلِيْ وَأَنَّ عَلِيًّا أَمِيْرُالْمُؤْمِنِيْنَ.

Artinya: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengambil dari Bani Adam, dari punggung mereka anak keturunan mereka dan Ia jadikan mereka saksi atas diri mereka sendiri: Bukankah Aku ini Tuhan kamu dan Muhammad Rasul-Ku dan Ali adalah Amirul Mukminin?” (Al Kaafi Kitabul Hujjah, 1:437, cet. Teheran Iran).

  1. Diriwayatkan pula, ia berkata : “Jibril turun membawa ayat ini kepada Muhammad dengan bunyi demikian:

وَإِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلىٰ عَبْدِنَا فِيْ عَلِيٍّ فَأ ْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِنْ مِثْلِهِ.

Artinya: “Dan jika kamu sekalian meragukan terhadap apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami tentang Ali, maka datangkanlah satu surat saja yang serupa dengannya”. (Al Kaafi Kitabul Hujjah, 1:417, cet. Teheran Iran).

  1. Dari Abi Bashir, dari Abu Abdillah a.s tentang firman Allah:

مَنْ يُطِعِ آلله َوَرَسُوْلَهُ فِيْ وِلاَيَةِ عَلِيٍّ وَاْلأَئِمَّةِ بَعْدَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Artinya: “Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya didalam urusan kewalian Ali dan para Imam sesudahnya, maka sesungguhnya ia memperoleh kemenangan yang besar”, demikianlah ayat tersebut diturunkan”. (Al Kaafi Kitabul Hujjah, 1:414, cet. Teheran Iran).

Inilah dia keyakinan kaum Syi’ah terhadap Al-Qur’an, suatu keyakinan kafir lagi keluar dari Islam, laksana keluarnya anak panah dari busurnya, sepercik dari yang banyak ini bisa anda temukan pada kitab-kitab induk mereka yang terkenal, dari buku Al Kaafi karya Al Kulaini dari tafsir Al Qummi dan buku Al Ihtijaj karya Thibrisi, buku Bashairud Darajaat karya Shafar, dan Hayatul Qulub karya Al Majlisi, Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani dan tafsir Ash-Shafi karya Muhsin Al Kashi. Juga buku Fashlul Khithab fi Itsbattahriifi Kitaabi Rabbil Arbaab karya ulama Syi’ah bernama Mirza Taqiyyunnuuri At-Thibrisi, buku Al Anwar an-Nu’maniyah karya Ni’matullah Al Jazairi, dan buku Kasyful Asrar karya Khumaini dan lain-lain lagi. Tidak satu pun kitab dari buku-buku induk Syi’ah yang menjadi pegangan mereka terlepas dari keyakinan yang merupakan identitas mereka ini, mereka kaitkan keyakinan semacam itu kepada para imam mereka yang mereka anggap ma’shum, anggapan yang penuh kepalsuan dan kebohongan , dan mengada-ada atas nama Allah, dan para Aulianya. Para Imam tersebut sebenarnya bersih dari kebohongan dan tipu daya yang mereka lakukan itu. Keyakinan-keyakinan semacam itu tentang Al-Qur’an sebagaimana tercantum penuh di dalam buku-buku induk Syi’ah, hanyalah bisa dikatakan dan dipercayai oleh orang kafir lagi lepas dari Islam, karena Allah telah berfirman di dalam Kitab Suci-Nya sebagai berikut:

1.

الم • ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Alif Lam Mim. Itulah Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al Baqarah: 1-2)

2.

لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Artinya: ” Tiada tersentuh oleh kebatilan di masanya dan tidak pula sesudahnya. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (Fushshilat: 42).

3.

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Artinya: ” Sungguh Kami sendirilah yang menurunkan Adz-Dzikir ini dan sungguh Kami sendiri yang memeliharanya, (Al Hijr: 9).

Ayat-ayat yang terang lagi jelas ini, seterang matahari di siang bolong adalah menjadi bukti yang jelas lagi mendasar, bahwa Al-Qur’an sungguh-sungguh terjaga dan terpelihara. Penjaganya adalah Allah, Tuhan yang telah menurunkan kebenaran tersebut. Dia menurunkannya untuk memberikan penjelasan mengenai berbagai masalah dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Demikianlah kepercayaan Ahlul Kiblat, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan bukan kepercayaan orang-orang yang mengaku-aku, sekalipun mereka dengan menggunakan seribu dalih dan menghiasi pengakuan-pengakuan mereka itu dengan kata-kata manis dan menarik agar barang dagangan mereka laris. Karena kitab-kitab mereka sendiri telah mendustakan mereka dan menjadi “senjata makan tuan”.

Jika golongan Syi’ah membantah dengan kata-kata: “Bagaimana bisa terjadi begitu, padahal kami membaca Al-Qur’an yang sama seperti Al-Qur’an yang ada dan kami melaksanakan hukum-hukumnya?” Kami menjawab, “Dari ucapanmu sendiri kusumbat mulutmu dan dari tempat minummu kulepas dahagamu”. Karena itu wahai golongan Syi’ah, dengarlah kata-kata yang diucapkan oleh ulama kamu dan pemimpin kamu yang agung, Ni’matullah al Jazairi, dalam bukunya yang tebal Al Anwar an-Nu’maniyah 2 hlm. 363-364, cetakan Teheran, sebagai berikut:

  1. Ia berkata: Jika anda bertanya, mengapa (kami) dibenarkan membaca Al-Qur’an ini, padahal ia telah mengalami perubahan?” Saya menjawab: “Telah diriwayatkan di dalam banyak riwayat bahwa mereka (para imam Syi’ah) menyuruh golongan mereka untuk membaca Al-Qur’an yang ada di tangan umat Islam di waktu shalat dan lain-lain dan melaksanakan hukum-hukumnya sampai kelak datang waktunya pemimpin kita, Shahibuz Zaman, muncul lalu menarik dari beredarnya Al-Qur’an yang ada di tengah umat Islam ini ke langit dan mengeluarkan Al-Qur’an yang dahulu disusun oleh Amirul Mukminin as, lalu Al-Qur’an inilah yang dibaca dan di amalkan hukum-hukumnya”. Riwayat-riwayat yang menyebutkan pernyataan seperti ini banyak sekali.
  2. Ulama mereka yang bernama Al Karmani telah berkata di dalam buku “Ar-Raddu ‘ala Hasyim Assyami, halaman 13, cetakan Karman Iran”: “Telah terjadi perubahan kalimat, pemindahan dan pengurangan di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an yang sebenar-benarnya terpelihara hanyalah yang ada di tangan Al Qaaim (Imam ke- 12 yang ghaib) dan golongan Syi’ah sebenarnya hanyalah karena terpaksa membaca Al-Qur’an yang ada ini karena taqiyyah yang diperintahkan oleh keluarga Muhammad a.s”(imam-imam mereka).

Inilah dia I’tikad kaum Syi’ah terhadap Al-Qur’an dan demikianlah tertulis dalam buku-buku induk mereka serta bimbingan dari para Imam dan ulama mereka menjadi saksi pada diri mereka, sekalipun mereka menolak dan menutupi, dan sekalipun mereka menjadi panik dengan berbagai dalih dan taqiyyah, terkecuali mereka berlepas diri dari keyakinan mereka itu dan kitab-kitab induk mereka yang merupakan sumber-sumber kekufuran, kebejatan, dan kesesatan, kemudian dengan terus terang mengumumkan taubat mereka kepada Allah dan kembali kepada kebenaran dan jalan lurus – karena di luar kebenaran yang ada hanyalah kesesatan. Karena itu kemanakah kalian akan berpaling-.

Sumber : http://old.gensyiah.com/aqidah-syiah-terhadap-al-quran.html

Halal Haram dalam Agama Syiah

Sudah dimaklumi dalam syariat islam bahwa ikan dan hewan laut semuanya halal.
Allah berfirman

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (٩٦)

Dihalalkan bagimu binatang buruan laut [442] dan makanan (yang berasal) dari laut[443] sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.(al-Maidah: 96)

[442] Maksudnya: binatang buruan laut yang diperoleh dengan jalan usaha seperti mengail, memukat dan sebagainya. Termasuk juga dalam pengertian laut disini Ialah: sungai, danau, kolam dan sebagainya.

[443] Maksudnya: ikan atau binatang laut yang diperoleh dengan mudah, karena telah mati terapung atau terdampar dipantai dan sebagainya.

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ ، السَّمَكُ وَالْجَرَادُ وَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

“Dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah; ikan, belalang, hati dan limpa.” (HR Ahmad, darauquthni dari Ibn Umar, shahih)

Juga bersabda:

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.” (HR Malik dan ashhabussunan)

Namun syiah imamiyah memiliki agama lain dan syariat lain.

Mereka mengharamkan makanan laut semuanya kecuali yang bersisik dan beberapa macam yang sangat terbatas. Sementara sisanya semuanya haram!! Hal itu meliputi makanan-makanan yang dikenal dan tersebar luas di negara-negara Muslim, yaitu hidangan makanan yang berguna dan baik menurut kesaksian para ahli gizi. Sesuatu yang telah dihalalkan oleh Allah untuk kita.

Namun, Syiah telah menerima agama mereka dari bisikan setan, dan jauh dari kepastian, sehingga sesat menyesatkan.

Saya membawakan untuk Anda beberapa pelajaran dan fatwa konyol mereka yang kacau.

Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kita dari kesesatan mereka dan yang telah mengunggulkan kita atas banyak makhluk-Nya.

——————————————————————-

FATWA ALI SISTANI (pemimpin Hauzah syiah tertinggi di Najaf, yang sekarang terjerat skandal free sex atas nama agama)

Kitab Minhajus Shalihin Masalah ke 877:

Tidak halal dari hewan laut kecuali ikan, maka haram selainnya dari seluruh macam hewannya, sampai yang dinamai dengan nama hewan yang halal dimakan dari hewan darat seperti sapi dan kudanya. Begitu pula yang memiliki dua kehidupan seperti katak, kepiting dan penyu (kura-kura) menurut pendapat yang kuat.  Ya, burung, yang disebut burung laut –seperti sabihah (burung berenang), ghaishah (burung penyelam) dll- halal darinya apa yang halal semisalnya dari burung darat.

Masalah 878: tidak halal ikan kecuali yang memiliki sisik jika asli, sehingga tidak masalah hilangnya sisik karena satu sebab, maka halal Alkanat dan Rabitha dan linen halus, cokelat, ikan mas dan Qattan, Tabaraani dan Alablami dan lainnya untuk udang yang disebut di hari ini dengan rubiyan (udang).  Dan Tidak dihalalkan ikan yang tidak bersisik dari asalnya seperti algary (catfish) dan aL-zimair , al-Zahw, Almarmahe. Jika ada keraguan apakah dia bersisik atau tidak maka dianggap tidak bersisik.

ikan al-JaryiFoto ikan al-Jaryi yang diharamkan syiah karena tidak bersisik (seperti halnya lele)

Pertanyaan: Saya bertanya tentang cumi-cumi (Marine organism of mollusks). Apakah diperbolehkan untuk makan atau tidak? .. Apakah itu najis atau tidak? .. Apakah setiap hewan laut yang lunak/lembut tidak boleh dimakan?
Fatwa: Jika yang Anda maksud dengan moluska itu hewan yang memiliki kulit batu kapur seperti pada kulit kura-kura dan kerang, maka semua itu haram, tetapi suci.

Pertanyaan: Cumi-cumi adalah termasuk hewan laut yang mengeluarkan tinta .. lalu bagaimana penyembelihannya?
Fatwa: Tidak ada cara untuk penyembelihannya, dan tidak ada jalan sebab ia diharamkan untuk dimakan.  Tidak halal dengan disembelih  fisiknya, maka penyembelihannya tidak mempengaruhi kesuciannya.

Pertanyaan: Saya memiliki pertanyaan tentang crab (kepiting).. Apakah diperbolehkan untuk makan atau tidak? Bersama dengan alasannya?
Fatwa: Tidak dibolehkan jika tidak halal dari hewan laut, kecuali ikan bersisik dan udang.

Pertanyaan: Apa hukumnya makan kerang, induk udang?
Fatwa: Tidak boleh!!.

Pertanyaan: Kami sedang bekerja dalam profesi nelayan (penangkap ikan), hari ini kita menghadapi masalah dalam penjualan beberapa jenis ikan yang diharamkan seperti Kepiting: rajungan, cumi-cumi yang dikenal di kita dengan nama Khatstsaq. Saya mohon kepada tuan agar memberitahukan kepada saya  hukum penjualan spesies ini (kepiting dan cumi) secara rinci ?
Fatwa: Boleh menjualnya kepada orang yang mengaggapnya halal !!!!.

Pertanyaan: Apakah cumi haram atau halal?
Fatwa: cumi tampaknya ia hewan laut bukan jenis ikan, dan semua binatang laut non-ikan yang bersisik dilarang, kecuali udang.

Pertanyaan: Apa hukumnya makan kepiting?
Fatwa: Tidak boleh makan kepiting.

Pertanyaan: Apa hukumnya makan makanan laut selain ular  seperti apa yang dikeluarkan dari kerang laut Apakah boleh makan ini? dan apa kaedah dasar yang dapat mendefinisikan hal-hal yang pa?
Fatwa: Kerang adalah hewan yang tidak boleh  memakannya. Tidak halal dari binatang laut kecuali ikan, dan tidak halal dari ikan kecuali yang bersisik asli, meskipun sisiknya sebab.

Pertanyaan: Saya punya beberapa saudara mengatakan kepada saya bahwa hewan laut tidak boleh makan kecuali ikan dan udang Pertanyaan saya adalah .. Apakah diperbolehkan untuk makan (lobster) dan nama Arab Syarikhah, atau udang atau lobster? .. Apa alasan keharamannya jika tidak boleh dimakan?
Fatwa: Tidak dibolehkan, dalilnya adalah riwayat-riwayat, sementara hukum itu adalah ta’abbudi (murni taat tidak bisa dinalar).

Pertanyaan: Apakah halal atau haram kepiting, perhatikan bahwa dalam klasifikasi Kerajaan ilmu kelautan mengklasifikasikan Udang, kepiting, ibu udang  dalam klasifikasi satu di bawah pintu krustasea?
Fatwa: Semua hewan laut adalah haram, kecuali ikan yang memiliki sisik¸ tidak halal selain ikan kecuali udang.

FATWA Al-Khumaini

Kitab Tahrirul wasilah:

Masalah 1: tidak dimakan dari makanan laut kecuali ikan dan burung secara global. Maka selainnya dari berbagai jenis hewan adalah haram, sampai hewan yang ada padanannya di darat seperti sapi laut. Dst (masih ada beberapa)

Fatwa serupa juga disampaikan oleh:

  • Mirza Jawad al-Tibrizi
  • Sayyid Muhammad  al-Husaini al-Syirazi
  • Sayyid Shadiq as-Syirazi
  • Sayyid Muhammad said al-hakim
  • Sayyid  Kazhim al-Husaini al-Hairi

——————————————————————-

Allah berfirman:

وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ (١١٦) مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (١١٧)

“dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (An Nahl: 116-117)

انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَكَفَى بِهِ إِثْمًا مُبِينًا (٥٠)

“Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan Dusta terhadap Allah? dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).” (An-Nisa`:50)

انْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (٢٤)

“lihatlah bagaimana mereka telah berdusta kepada diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.” (Al-an’am 24)

Mirip dengan bangsa jahiliyyah, karena mereka tidak berakal

مَا جَعَلَ اللَّهُ مِنْ بَحِيرَةٍ وَلا سَائِبَةٍ وَلا وَصِيلَةٍ وَلا حَامٍ وَلَكِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَأَكْثَرُهُمْ لا يَعْقِلُونَ (١٠٣)

“Allah sekali-kali tidak pernah mensyari’atkan adanya bahiirah[449], saaibah[450], washiilah[451] dan haam[452]. akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti” (al-Maidah: 103)

[449] Bahiirah: ialah unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelima itu jantan, lalu unta betina itu dibelah telinganya, dilepaskan, tidak boleh ditunggangi lagi dan tidak boleh diambil air susunya.

[450] Saaibah: ialah unta betina yang dibiarkan pergi kemana saja lantaran sesuatu nazar. Seperti, jika seorang Arab Jahiliyah akan melakukan sesuatu atau perjalanan yang berat, Maka ia biasa bernazar akan menjadikan untanya saaibah bila maksud atau perjalanannya berhasil dengan selamat.

[451] Washiilah: seekor domba betina melahirkan anak kembar yang terdiri dari jantan dan betina, Maka yang jantan ini disebut washiilah, tidak disembelih dan diserahkan kepada berhala.

[452] Haam: unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat lagi, karena telah dapat membuntingkan unta betina sepuluh kali. perlakuan terhadap bahiirah, saaibah, washiilah dan haam ini adalah kepercayaan Arab jahiliyah.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ (١١٢)

“Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)[499]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al-An’Am: 112)

[499] Maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya menipu manusia agar tidak beriman kepada Nabi.

Kami bersyukur kepada Allah atas hidayah ini. Semoga orang syiah disadarkan oleh Allah sehingga kembali ke pangkuan sunnah, akal, fithrah.

Malang Rabo 18 Agustus 2010.
Referensi:

  • http://www.bahrainvoice.net/vb/showthread.php?t=14109
  • http://www.salaficall.net/vb/showthread.php
  • http://www.iraqcenter.net/vb/56210.html
  • http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=89220

Sumber : http://old.gensyiah.com/halal-haram-dalam-agama-syiah.html

BUKTI KESYIRIKAN SYIAH DALAM MASYIAH

www.gensyiah.net – Berikut adalah satu bukti kesyirikan syiah, yaitu menyekutukan Allah dalam soal kehendak, bahkan menjadikan kehendak Allah mengikut kehendak Imam.

Ulama bersorban Syiah yang bernama Husain al-Muthawwi’ berkata: “Dalam satu riwayat dari imam kita Zainal Abidin, (dia berkata): Kami adalah “orang yang jika kami berkehendak maka Allah berkehendak. dan jika kita menginginkan maka Allah pun menginginkannya.”

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَجُلًا، أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ فِي بَعْضِ الْأَمْرِ، فَقَالَ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَجَعَلْتَنِي لِلَّهِ عَدْلًا؟ قُلْ: مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ ”

dari Ibnu Abbas, ada seorang berkata kepada Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- : Ma Syaallah wa Syi`ta (ini atas kehendak Allah dan kehendak Anda”. maka Nabi berkata: Apakah kami menjadikan aku sebagai sekutu Allah? Katakanlah: ini atas kehendak Allah semata.

maka waspadalah, ajaran Syiah yang ghulum kepada imam membuatkan banyak kesyirikan

Keadilan untuk Orang Syiah

Abu Hamzah

IMAM MALIK

Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdilloh berkata, bahwa Imam Malik berkata :

الذى يشتم اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم ليس لهم اسم او قال نصيب فى الاسلام.

“Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak memiliki nama Islam, atau tidak memiliki bagian dalam Islam”.
( Al Khallal / As Sunnah, 2-557 )

Imam Ibnu Katsir berkata, dalam kaitannya dengan firman Allah surat Al Fath ayat 29, yang artinya :

“Muhammad itu adalah Rasul (utusan Allah). Orang-orang yang bersama dengan dia (Mukminin) sangat keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keridhaanNya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, karena bekas sujud. Itulah contoh (sifat) mereka dalam Taurat. Dan contoh mereka dalam Injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya (yang kecil lemah), lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang-orang yang menanamnya. (Begitu pula orang-orang Islam, pada mula-mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat), supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal salih diantara mereka”.

Beliau berkata : Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik, beliau mengambil kesimpulan bahwa golongan Rofidhoh (Syiah), yaitu orang-orang yang membenci para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, adalah Kafir.
Beliau berkata : “Karena mereka ini membenci para sahabat, maka dia adalah Kafir berdasarkan ayat ini”. Pendapat tersebut disepakati oleh sejumlah Ulama.
(Tafsir Ibin Katsir, 4-219)

Imam Al Qurthubi berkata : “Sesungguhnya ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya juga benar, siapapun yang menghina seorang sahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin”.
(Tafsir Al Qurthubi, 16-297).

IMAM AHMAD IBN HANBAL
Al Khallal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya,

ماأراه على الإسلام

Menurut saya, dia bukan orang Islam”.
( Al Khallal / As Sunnah, 2-557).
Beliau Al Khalal juga berkata : Abdul Malik bin Abdul Hamid menceritakan kepadaku, katanya: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata : “Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka kami khawatir dia keluar dari Islam, tanpa disadari”.
(Al Khallal / As Sunnah, 2-558).

Beliau Al Khallal juga berkata :
“Abdullah bin Ahmad bin Hambal bercerita pada kami, katanya : “Saya bertanya kepada ayahku perihal seorang yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka beliau menjawab : “Saya berpendapat ia bukan orang Islam”.
(Al Khalal / As Sunnah, 2-558)
Dalam kitab AS SUNNAH karya IMAM AHMAD halaman 82, disebutkan mengenai pendapat beliau tentang golongan Rofidhoh (Syiah) :
“Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya, kecuali hanya empat orang saja yang tidak mereka kafirkan, yaitu Ali, Ammar, Migdad dan Salman. Golongan Rofidhoh (Syiah) ini sama sekali bukan Islam.

IMAM AL BUKHORI
Iman Bukhori berkata :

.ماأبالى صليت خلف الجهمى والرافضى أم صليت خلف اليهود والنصارى

ولا يسلم عليه ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم

“Bagi saya sama saja, apakah aku sholat dibelakang Imam yang beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani.

Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.
(Imam Bukhori / Kholgul Af”al al-‘Ibad, halaman 125).

IMAM AL FIRYABI
Al Khalal meriwayatkan, katanya : “Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail Al Karmani, katanya : “Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami : “Saya mendengar Al Faryaabi dan seseorang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Jawabnya : “Dia kafir”. Lalu ia berkata : “Apakah orang semacam itu boleh disholatkan jenazahnya ?”. Jawabnya : “Tidak”. Dan aku bertanya pula kepadanya : “Mengenai apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh?”. Jawabnya :

لا تمسوه بأيديكم، ارفعوه بالخشب حتى تواروه فى حفرته

“Janganlah kamu sentuh jenazahnya dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu turunkan dalam liang lahatnya”.
(Al Khalal / As Sunnah, 6-566).

AHMAD BIN YUNUS
Beliau berkata : “Sekiranya seorang Yahudi menyembelih seekor binatang dan seorang Rofidhi (Syiah) juga menyembelih seekor binatang, niscaya saya hanya memakan sembelihan si Yahudi dan aku tidak mau makan sembelihan si Rofidhi (Syiah), sebab dia telah murtad dari Islam”.
(Ash Shariim Al Maslul, halaman 570).

ABU ZUR’AH AR ROZI
Beliau berkata :

اذا رأيت الرجل ينتقص أحدا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فاعلم أنه زنديق، لأن مؤدى قوله الى ابطال القران والسنة.

“Bila anda melihat seorang merendahkan (mencela) salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka ketahuilah bahwa dia adalah ZINDIIG. Karena ucapannya itu berakibat membatalkan Al-Qur’an dan As Sunnah”.
(Al Kifayah, halaman 49).

ABDUL QODIR AL BAGHDADI
Beliau berkata : “Golongan Jarudiyah, Hisyamiyah, Jahmiyah dan Imamiyah adalah golongan yang mengikuti hawa nafsu yang telah mengkafirkan sahabat-sahabat Nabi yang terbaik, maka menurut kami mereka adalah kafir. Menurut kami mereka tidak boleh di sholatkan dan tidak sah berma’mum sholat di belakang mereka”.
(Al Fargu Bainal Firaq, halaman 357).
Beliau selanjutnya berkata : “Mengkafirkan mereka adalah suatu hal yang wajib, sebab mereka menyatakan Allah bersifat Al Bada’ (mengetahui setelah sebelumnya tidak mengetahui)

IBNU HAZM
Beliau berkata : “Salah satu pendapat golongan Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah, bahwa Al-Qur’an sesungguhnya sudah diubah”.
Kemudian beliau berkata : ”Orang yang berpendapat bahwa Al-Qur’an yang ada ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan mendustakan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam”.
(Al Fashl, 5-40).

ABU HAMID AL GHOZALI
Imam Ghozali berkata : “Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah menentang dan membinasakan Ijma kaum Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan surga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”.

Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang tersebut adalah kafir”.
(Fadhoihul Batiniyyah, halaman 149).

AL-QODHI IYADH
Beliau berkata : “Kita telah menetapkan kekafiran orang-orang Syiah yang telah berlebihan dalam keyakinan mereka, bahwa para Imam mereka lebih mulia dari pada para Nabi”.

Beliau juga berkata : “Kami juga mengkafirkan siapa saja yang mengingkari Al-Qur’an, walaupun hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat yang diubah atau ditambah di dalamnya, sebagaimana golongan Batiniyah (Syiah) dan Syiah Ismailiyah”.
(Ar Risalah, halaman 325).

AL FAKHRUR ROZI
Ar Rozi menyebutkan, bahwa sahabat-sahabatnya dari golongan Asyairoh mengkafirkan golongan Rofidhoh (Syiah) karena tiga alasan :
Pertama: Karena mengkafirkan para pemuka kaum Muslimin (para sahabat Nabi). Setiap orang yang mengkafirkan seorang Muslimin, maka dia yang kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang artinya : “Barangsiapa berkata kepada saudaranya, hai kafir, maka sesungguhnya salah seorang dari keduanya lebih patut sebagai orang kafir”.
Dengan demikian mereka (golongan Syiah) otomatis menjadi kafir.
Kedua: “Mereka telah mengkafirkan satu umat (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh kehormatan (para sahabat Nabi)”.
Ketiga: Umat Islam telah Ijma’ menghukum kafir siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari kalangan sahabat.
(Nihaayatul Uguul, Al Warogoh, halaman 212).

SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH
Beliau berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa Al-Qur’an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa Al-Qur’an mempunyai penafsiran-penafsiran batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya. Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang kekafiran orang semacam ini”
Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak lebih dari sepuluh orang, atau mayoritas dari mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan lagi, bahwa orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan penegasan Al-Qur’an yang terdapat di dalam berbagai ayat mengenai keridhoan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini, adakah orang yang meragukannya? Sebab kekafiran orang semacam ini sudah jelas….
(Ash Sharim AL Maslul, halaman 586-587).

SYAH ABDUL AZIZ DAHLAWI
Sesudah mempelajari sampai tuntas mazhab Itsna Asyariyah dari sumber-sumber mereka yang terpercaya, beliau berkata : “Seseorang yang menyimak aqidah mereka yang busuk dan apa yang terkandung didalamnya, niscaya ia tahu bahwa mereka ini sama sekali tidak berhak sebagai orang Islam dan tampak jelaslah baginya kekafiran mereka”.
(Mukhtashor At Tuhfah Al Itsna Asyariyah, halaman 300).

MUHAMMAD BIN ALI ASY SYAUKANI
Perbuatan yang mereka (Syiah) lakukan mencakup empat dosa besar, masing-masing dari dosa besar ini merupakan kekafiran yang terang-terangan.
Pertama : Menentang Allah.
Kedua : Menentang Rasulullah.
Ketiga : Menentang Syariat Islam yang suci dan upaya mereka untuk melenyapkannya.
Keempat : Mengkafirkan para sahabat yang diridhoi oleh Allah, yang didalam Al-Qur’an telah dijelaskan sifat-sifatnya, bahwa mereka orang yang paling keras kepada golongan Kuffar, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan golongan Kuffar sangat benci kepada mereka. Allah meridhoi mereka dan disamping telah menjadi ketetapan hukum didalam syariat Islam yang suci, bahwa barangsiapa mengkafirkan seorang muslim, maka dia telah kafir, sebagaimana tersebut di dalam Bukhori, Muslim dan lain-lainnya.
(Asy Syaukani, Natsrul Jauhar Ala Hadiitsi Abi Dzar, Al Warogoh, hal 15-16)

PARA ULAMA DI SEBELAH TIMUR SUNGAI JIHUN (AMUDARYA)
Mahmud Al Alusi (Abu al-Tsana`, al-Mufassir) berkata : “Sebagian besar ulama disebelah timur sungai ini menyatakan kekafiran golongan Itsna Asyariyah dan menetapkan halalnya darah mereka, harta mereka dan menjadikan wanita mereka menjadi budak, sebab mereka ini mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terutama Abu Bakar dan Umar, yang menjadi telinga dan mata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengingkari kekhilafahan Abu Bakar, menuduh Aisyah Ummul Mukminin berbuat zina, padahal Allah sendiri menyatakan kesuciannya, melebihkan Ali Radhiallahu ‘Anhu dari rasul-rasul Ulul Azmi. Sebagian mereka melebihkannya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengingkari terpeliharanya Al-Qur’an dari kekurangan dan tambahan”.
(Nahjus Salaamah ila Mabahits al-Imamah, halaman 29-30).

Demikian telah kami sampaikan fatwa-fatwa dari para Imam dan para Ulama yang dengan tegas mengkafirkan golongan Syiah yang telah mencaci maki dan mengkafirkan para sahabat serta menuduh Ummul mukminin Aisyah berbuat selingkuh, dan berkeyakinan bahwa Al-Qur’an yang ada sekarang ini tidak orisinil lagi (Muharrof, telah diubah-ubah, tidak suci). Serta mendudukkan imam-imam mereka lebih tinggi (Afdhol) dari para Rasul.

Semoga fatwa-fatwa tersebut dapat membantu pembaca dalam mengambil sikap tegas terhadap golongan Syiah.
“Yaa Allah tunjukkanlah pada kami bahwa yang benar itu benar dan jadikanlah kami sebagai pengikutnya, dan tunjukkanlah pada kami bahwa yang batil itu batil dan jadikanlah kami sebagai orang yang menjauhinya.”

Sumber : http://old.gensyiah.com/keadilan-untuk-orang-syiah.html