Catatan Kecil dari Dialog Grand Syaikh Al Azhar dengan Kang Said

Oleh: Budi Marta Saudin

Melihat video dialog Grand Syaikh Al Azhar, Prof. Dr. Ahmad Thayib dengan Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. Said Aqil Siradj, sangat menarik.

Acara yang diselenggarakan di kantor PBNU Jakarta pada Rabu (2/5/2018) ini dihadiri oleh Menteri Agama Lukman Hakim, Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrowi, dan sejumlah aktifis seperti Zuhairi Misrawi, para wartawan, santri, dan lain-lain.

Dalam pembukaannya, Kang Said memaparkan sejarah singkat berdirinya NU. Tak lupa, beliau menjelaskan jumlah pengikutnya yang jutaan, jumlah sekolah, pesantren, madrasah, rumah sakit, dan perguruan tinggi.

Di sela penjelasan itu, Kang Said menyebut beberapa kali kata Wahabiyah dan Salafiyah, saat menerangkan asal usul berdirinya NU. Kang Said juga mengatakan bahwa banyak orang Indonesia yang belajar ke Arab Saudi, kemudian pulang ke tanah air menjadi pengikut Wahabi.

Kata Kang Said, “Mereka pulang ke Indonesia dengan memanjangkan jenggot. Mereka ini berbahaya. Tapi yang bahaya ini yang lulusan S1. Yang kuliah sampai doktoral kayak saya sih tidak bahaya.”

Kang Said curhat, banyak anak bangsa yang belajar ke Arab Saudi dan Iran. “Banyak beasiswa diberikan oleh Saudi dan Iran,” ujarnya.

Kang Said juga menerangkan tentang Islam Nusantara. Yang menurut beliau, Islam Nusantara adalah Islam yang santun, yang penuh toleransi dan tidak ekstrim.

Menurut beliau, Islam Nusantara bukanlah sebuah madzhab yang baru. Tetapi sebuah cara pandang keagaaman yang tidak ekstrim, seperti para wali dulu ketika mendakwahkan Islam di Nusantara.

“Dulu Wali Songo mendakwahkan Islam di Nusantara tanpa ada pertumpahan darah,” tegas beliau.

Tanggapan Syaikh Ahmad Thayib

Syaikh Ahmad Thayib menanggapi beberapa statemen Kang Said dengan santun, tetapi sangat menusuk.

Pada pembukaan, Syaikh Thayib mengatakan bahwa Islam datang dari Arab. Allah memilih bangsa Arab, bukan bangsa yang lainnya. Maka berterima kasihlah kepada orang Arab. Para pendakwah dahulu yang datang ke Indonesia juga orang Arab.

Menanggapi tentang Wahabi dan Salafi, Syaikh Thayib berpendapat bahwa sikap berlebihan itu ada pada banyak kelompok. “Maka jangan sampai sikap berlebihan itu ada pula pada kita, dengan menganggap orang lain pasti salah sedangkan saya pasti benar,” kata beliau.

Syaikh Thayib menganjurkan agar umat Islam mencari persamaan, bukan mencari perbedaan, karena membuat umat Islam tercerai berai.

Kemudian Syaikh Thayib menasehatkan kepada PBNU agar bekerja sama dengan pihak manapun, termasuk dengan Saudi dan Wahabi.

Statemen yang dilontarkan oleh Syaikh Thayib ini sangat menarik. Seolah membantah konsep Islam Nusantara dan citra buruk Wahabi yang dipresentasikan Kang Said. Tapi, sebagaimana dikatakan oleh KH. Husein Muhammad, bahwa kritikan Grand Syaikh Al Azhar ini sangat santun.

Ada kritikan Grand Syaikh Al Azhar yang langsung di respon oleh Kang Said, tetapi dengan gaya bahasa setengah bercanda.

“Kalau cari persamaan dengan Wahabi ya susah. Kita sering tahlilan, sedangkan menurut mereka haram,” celetuk Kang Said, yang kemudian diiringi tawa hadirin.

Dari dialog yang berlangsung selama 1 jam itu, dapat dipahami bahwa konsep wasathiyah Islam yang disampaiakan oleh Grand Syaikh Al Azhar tidak sama persis dengan Kang Said.

Syaikh Ahmad Thayib menilai bahwa moderat itu kepada siapa saja, tanpa melihat fikrah dan latar belakangnya, termasuk kepada Wahabi. Adapun Kang Said, nampaknya masih sulit untuk menerima hal itu.

Add Comment

Required fields are marked *. Your email address will not be published.